Selasa, 14 Oktober 2008

KKN STAI Luqman Al-Hakim 2005

Lihatlah Anak - anak ini, mereka adalah generasi penerus perjuangan Islam, penegak Islam di Tengger. Ayo Saudaraku, bangkitlah.

Bom Syahadat di Tengger


Subhanallah, subhanallah,.... Tak henti - hentinya hatiku bertasbih kepada Allah. ketika menyaksikan sendiri kebesaran Dia di suku Tengger. Dan menyaksikan sendiri sekitar 1866 mualaf yang semangat belajar dan mengamalkan Syariat Islam. sehingga lantunan Adzan pun tak asing lagi.
Kawan - kawan mari kita berbagi kepada umat, meskipun keaadaan kita sempit, baik berbagi dengan imu, harta maupun pikiran kita. Umat menunggumu, Ingat itu,

Minggu, 31 Agustus 2008

Mujahid Ndeso


Ingat mas, tampang, jabatan, dan kekayaan gak jadi ukuran di mata Allah SWT. Jadi gak usah minder dan takut dengan omongan dan kelakuan orang - orang terhadap kita. Gitu aja kok repoot. Capek dech.

Selasa, 17 Juni 2008

HAKEKAT KESUKSESAN SEJATI

Oleh : GATOT SUPRIYADI*


Coba tanya pada para mahasiswa, kenapa kuliah?. Jawabanya, karena ingin sukses. Coba tanya pada para selebritis, kenapa jadi artis?. Jawabanya karena ingin sukses. Tanyalah juga kepada para pemburu PNS?. Tentu jawabanya sama, ingin sukses. Rata – rata semua orang, kalau ditanya, ingin sukses. Lantas apa hakekat sukses?.

Apakah, ketika harta berlimpah, istri cantik, punya jabatan penting, dikatakan sukses?. Atau seseorang dikatakan sukses, apabila dia telah lulus kuliah, lalu bekerja, kemudian jadi PNS, kemudian menikah, lalu punya anak, lantas tua menjalani pensiun, dan mati?. Itukah yang dikatakan sukses. Bukan ya Ikhwah, bukan itu. Salah besar kalau antum mengartikan seperti itu.

Ana muslim, antum muslim. Maka, ‘kacamata’ kita tentunya Islam. Dan hakekat sukses pun harus kita definisikan sesuai kacamata Islam. Lantas apa kesuksesan sejati yang sesuai Islam?. Dikatakan sukses apabila kita selalu di jalan Allah dan terus selalu berusaha istiqomah di jalan tersebut. Maka, kita tidak akan pernah membiarkan celah sedikit pun suatu potensi yang mengganggu untuk keluar dari jalan Allah. Bahkan harus disingkirkan sejauh – jauhnya. Misalnya, besok kita ujian, tentunya hari ini kita belajar, dan focus pada mata kuliah yang besok diujikan. Seluruh mata kuliah lain kita singkirkan. Dan hanya berkonsentrasi pada mata kuliah yang besok di ujikan. Begitu juga dengan kesuksesan sejati yang akan kita tempuh. Seluruh potensi yang menggangu kita singkirkan. Seluruhnya. Semakin tidak kita singkirkan, hidup kita pasti semrawut. Dan sedikit saja kita memberikan celah. Maka sama saja kita mengucapkan selamat datang kepada iblis laknatullah.

Wallahi Ikhwah, sungguh keadilan akhirat sangat berat. Salah mempersepsikan sukses, maka salahlah jalan kita, apabila sudah salah jalan, salahlah tujuan kita, apabila sudah salah tujuan, nerakalah tempat kita. Naudzubillah.

Manakala kita di padang masyar nanti, tidak satupun orang yang mempedulikan kita, meskipun itu bapak kita, ibu kita, anak kita sekalipun. Mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Di hari penghitungan itu, kita tidak bisa berbohong, tidak bisa mengelak. Mata, lidah, telinga, kaki, tangan bicara sendiri. Ketika diputuskan di neraka, karena lebih banyak salahnya, maka di seretlah, di buang ke jurang neraka. Tahukah antum?. Jatuhnya sampai ke dasar, memerlukan waktu tujuh puluh tahun, baru sampai dasar. Di nereka siksaan sangat menyiksa. Di setrika sampai tubuh hanjur. Lalu di pulihkan lagi, hanjur lagi, dipulihkan lagi dan terus begitu. Begitulah kalau kita salah jalan.

Iblis laknatullah, tergelincir hanya karena mempersepsikan sesuatu dengan materi. Bisa dibaca di al-Qur’an. Manakala iblis disuruh Allah menyembah Adam. Dia tidak mau, tidak patuh, hanya karena dia merasa lebih mulia dari Adam. Masak disuruh sujud pada Adam yang terbuat dari tanah sedangkan Aku ( kata Iblis) terbuat dari api. Materi ukuranya.

Marilah Ikhwah, kita raih kesuksesan yang sejati itu. Kalau kita tetap istiqomah, maka surga akan selalu menunggumu. Tergiurlah dengan surga itu. Jangan pernah kenikmatan surga di gadaikan hanya karena kenikmatan semu dan sesaat. Paling kita hidup di dunia Cuma 75 tahun. Tapi di akhirat? Kekal ya Ikhwah. Kekal. Mari kita teteskan air mata ini untuk Allah ta’ala.

Sabtu, 07 Juni 2008

MEMBUMIKAN KONSEP PENDIDIKAN RASULULLAH

Oleh: Gatot Supriyadi*

Salah satu strategi 'pembaratan' yang dilakukan oleh orientalis dan misioneris adalah melalui jalur pendidikan. Dimana sistem pendidikan inilah kualitas sumber daya manusia (SDM) ditentukan. Dalam sistem pendidikan, 'pembaratan' dilakukan dengan cara menggantikan corak pendidikan di negeri – negeri muslim dengan corak barat, dan mengusahakan agar pendidikan tersebut berjalan menurut gaya, prinsip dan ketentuan barat yang pragmatis dan sekularis.
Tengoklah di negara Indonesia, pendidikan berkembang sebagai sebuah industri yang bersifat ekonomis, selalu menghitung untung dan rugi. Tidak hanya itu saja yang bermasalah, kurikulum yang ditentukan oleh pemerintah pun bersifat dikotomis yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu kehidupan. Ditambah lingkungan sekolah yang jauh dari nilai – nilai syari'at Islam. Dan juga, visi, misi, dan tujuan pendidikan masih bersifat pragmatis.

Hal ini mengakibatkan :
Pertama, para pelajar dan pemuda Islam menjadi orang – orang yang inverior terhadap agamanya sendiri, mereka Islam, namun, pikiran dan perbuatanya tidak mencerminkan Islam. Bahkan mereka lebih bangga dengan pikiran dan kehidupan hedonisme ala barat. Lebih memprihatinkan lagi, mereka menjadi garda depan penentang Islam. Fenomena ini bisa dilihat dari beberapa contoh kasus di perguruan tinggi Islam, Mahasiswa yang belajar di fakultas syari'ah namun ujung – ujungnya menjadi penentang syari'at. Seperti membolehkan homo seksual, lesbian, nikah beda agama dan masih banyak lagi yang lainya.
Kedua, Komersialisasi lembaga pendidikan ini berdampak pada makin mahalnya biaya pendidikan, sehingga warga miskin tidak menjangkau uang gedung, buku, laboratorium, seragam, dan biaya – biaya lainya yang kadang tidak realistis. Seakan – akan membenarkan statemen yang mengatakan sekolah yang bermutu hanya untuk orang borjuis saja, yaitu untuk kalangan menengah keatas. Lantas dimana rahmatallil'alamin-nya Islam?
Ketiga, kurikulum masih bersifat dualisme atau dikotomis, yaitu memisahkan ilmu agama dan ilmu kehidupan. Akibatnya, akan memberikan dampak kepada pemikiran yang dikotomis. Menurut Dr. Ahmad Tafsir seorang pakar pendidikan, apabila dualisme kurikulum tidak diwaspadai, maka akan datang dua ancaman. Salah satunya yang paling serius yaitu akan menyebabkan masuknya sekularisme kedalam pemikiran Islam. Dimana daerah yang mencangkup keagamaan hanya dibatasi dengan jam mata pelajaran agama saja. Dan daerah keagamaan tidak masuk dalam mata pelajaran umum yang terkait ilmu kehidupan. Sehingga peran agama menjadi kecil dalam pembentukan pola pikir anak didik. akibatnya, pola pikir anti agamalah yang terbentuk.
Keempat, akibat dari visi, misi, dan tujuan pendidikan yang pragmatis mengakibatkan niat para pelajar dan pemuda muslim menjadi tidak murni lagi mencari ridho Allah saja. Namun niatnya lain – lain. Ada yang hanya menginginkan gelar saja, dan secepatnya meraih gelar tersebut supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan segera kembali. Sehingga hanya menuai keuntungan semata. Ada juga, karena hanya menginginkan pekerjaan yang layak dimata mereka, atau hanya ingin menaikkan status sosial saja. Niat – niat seperti itu akan menjadikan mereka syirik kepada Allah SWT, Naudzubillah!
Kelima, manakala lingkungan jauh dari nilai – nilai syari'at maka semua civitas sekolah baik guru atau dosen, anak didik atau mahasiswa, karyawan dan masyarakat kampus akan merasa asing terhadap kultur yang belandaskan syari'at. Mereka tidak akan merasa berdosa dan takut melanggar syari'at baik dilingkungan pendidikan maupun umum. Seperti menjaga hijab, penutupan aurat, berkhalwat, pacaran, merokok dan lain – lain.

Pendidikan alternatif yang Islami
Untuk membendung sistem pendidikan yang pragmatis dan sekularis, maka mau tidak mau harus ada model pendidikan alternatif yang Islami. Gambaranya, model pendidikanya sangat komperehensif. Yaitu sebuah model pendidikan yang kurikulumnya sistematis, mencangkup aspek akal, rohani ( hati ) dan perbuatan, kemudian lingkungan belajar yang agamis, menjunjung tinggi nilai –nilai syari'at, kemantapan visi, misi dan tujuan pendidikan dalam Islam ditambah biayanya dapat terjangkau semua kalangan masyarakat. Hal itu, sebenarnya sudah diterapkan oleh Rasulullah SAW ribuan tahun yang lalu.
Dalam Islam, pendidikan diarahkan bagi terbentuknya individu – individu yang beradab, berkepribadian Islam. Hal ini tercermin dalam sikap, pikiran dan akhlaknya yang berlandaskan Islam dan mampu Menguasai sains.
Institusi–institusi pendidikan sepatutnya melahirkan individu-individu yang baik, memiliki budi pekerti, nilai-nilai luhur dan mulia, yang ikhlas menyadari tanggung-jawabnya terhadap Rabnya, serta memahami dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada dirinya dan masyarakatnya, kemudian berupaya terus-menerus untuk mengembangkan setiap aspek dari dirinya menuju kemajuan sebagai manusia yang utuh.
Maka tidaklah mustahil peradaban Islam akan segera terwujud, manakala model pendidikanya benar dan bermutu. Sehingga mampu melahirkan 'salahudin – salahudin baru' yang siap mengemban peradaban Islam.
Terahir, hendaknya para orang tua yakin dan percaya diri memasukkan anak- anaknya ke sekolah – sekolah Islam yang mempunyai kriteria – kriteria seperti diatas, kalau pun tidak ada maka dipilih kriteria yang mendekatinya. Jangan memilih sekolah yang hanya mampu mengantarkan kebahagiaan duniawi saja seperti model pendidikan barat. Yang jelas – jelas ingin meghanjurkan Islam

Selasa, 27 Mei 2008

Keadilan

Dimana kini kan kucari, keadilan

Kutanya pewaris kolong jembatan

Ternyata hanya membisu, tak mengerti apa – apa

Kudatangi pelancong disco

Kok, malah tertawa – tawa, bodoh

Kujemput kawanan tuna susila,

Katanya

Lupakan saja nyanyianmu, kemari peluk pantatku!

Kuterobos relung – relung pasar

Pedagang – pedagang meneriakkan slogan devaluasi

Kutelusuri sepanjang jalan dan belantara

Pencuri – pencuri mendirikan penjara sendiri

Kutanya para nelayan.

Sambutnya langit masih tertutup awan badai

Kupanggil gurami kutanya serius

Keluhnya, aku keracunan, lautnya polusi

Kutelusuri diantara pelosok – pelosok desa

Jangkerik yang dulu asyik bernyanyi

Kini mulai gelisah

Beberapa cecak merana, tercuri ikat pinggangnya.

Hanya tokek yang masih tetap bernyanyi

Menghitung undian nasib yang lagi naif

Kudatangi seorang syekh,

Aku mengadu nasib bumi

Oh, syekh malah menjawab dengan tangisnya

Seraya meneruskan dzikir seraya mengangkat doanya

Kupeluk mahasiswa, kutanya dalam frustasinya

Dimana keadilan sejati?

Diakhirat, dekat hotel sagor

Bagaimana keadaanmu kini sahabat?

Lihat kacamataku, aku makin buta dengan diriku

Naluriku makan SKS hingga kenyang

Kuintip anopeles yang sembunyi di jalur gaza

Kupanggil kantor di Amerika

Dan baca tentara AIDSnya

Kuman jantung dan wabah kematian

Seraya, mereka teriak bersama,

Biarkan aku datang

Tuk membagi keadilan sejati



Sabtu, 19 Januari 2008

Konsisten Dalam Idealisme Islamiyah

Islam mengajarkan umatnya supaya teguh dengan pegangan hidupnya dan setia pada idealisme Islamnya.Tetapi hanya karena harta, tahta, jabatan, dan wanita terkadang rela mengorbankan idealisme yang selama ini diyakini dan diembanya. Orang bisa dengan mudah menggadaikan idealisme, menjual aqidahnya, menelantarkan keimanannya.

Seperti pada saat sekarang ini yang terjadi di Indonesia yaitu krisis multidimensi yang berlarut – berlarut. Kita sudah sering mendengar dan melihat baik dari media cetak maupun elektronik bagaimana masyarakat mudah tersulut emosinya , hanya karena masalah sepele sudah saling bunuh, pencurian, perampokan merajalela. Kebanyakan mereka kalau ditanya ngakunya orang Islam, naudzubillah. Dimana akhlakmu? Dimana moralmu?

Ironis lagi ditambah para pejabatnya yang banyak melakukan praktek KKN ( Korupsi, Kolusi, Nepotisme) , banyak yang melakukan Ilegal loging yang mengakibatkan banjir dimana – mana, perzinaan terselebung. Ketika masih mahasiswa kebanyakan dari mereka menjadi aktifis - aktifis dakwah yang militan, bahkan banyak pula dari kalangan mereka jebolan dari pesantren – pesantren ternama. Mengapa bisa begitu?

ü Silau Kehidupan Duniawi

Inilah salah satunya yang melunturkan idealisme Islamiyah seseorang. Ketika belum punya harta yang banyak, belum punya jabatan tinggi dan secara tiba – tiba bergelimang dengan kekayaan, jabatan yang tinggi. Mereka tidak menjadikan itu semua sebagai peluang beramal shalih . Tetapi kebanyakan mereka malah menjadikan kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah SWT dengan jurus aji mumpung. Mumpung kaya , mumpung jadi menteri, mumpung jadi bupati dan mumpung – mumpung lainya.

ü Terjangkit Virus Ide Pragmatis

Karena idealisme Islamiyah mereka sudah luntur, idealisme mereka sudah ternoda oleh pemikiran pragmatis yang hanya mengutamakan kenikmatan duniawi saja.

Menurut Drs. Adi Gunawan definisi idealisme merupakan suatu sikap dengan bingkai pada moral, estetika dan spiritual. Dan sikap idealisme inilah yang harus dijunjung tinggi oleh umat Islam.

Tetapi realitanya yang ada, ide pragmatis inilah yang menjadi pemikiran umat Islam sekarang ini. Kita harus tahu Karena pemikiran pragmatislah moral mereka menjadi bejat dan biadab. Dengan pemikiran pragmatis tersebut mereka sama saja dengan orang – orang kafir. Sebab ukuran perbuatan dalam ide pragmatis merupakan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan Islam menilai perbuatan dengan perintah dan larangan dari Allah SWT.

Namun demikian bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan tetapi Islam memperhatikan kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara’. Yaitu kemanfaatan yang sudah tersatandarisasi oleh syara’.

Maka hanyalah orang – orang yang teguh pada idealisme Islamiyahnya yang akan membangun peradaban Islam, bukan seperti orang – orang yang terjebak pada pemikiran pragmatis seperti kebanyakan umat Islam saat sekarang ini.

Kita bisa mengambil pelajaran tentang sejarah hidup Rasulullah SAW dalam hidupnya. Bagaimana idealisme Islamiyahnya kokoh dan kuat bagaikan gunung yang menancap di tanah.

Ini dapat kita pahami ketika Rasulullah SAW ditawarkan dengan berbagai kesenangan hidup oleh kaum Quraisy, agar meninggalkan perjuangan untuk mendaulatkan idealisme Islam, meninggalkan jihad, meninggalkan dakwah, dan meninggalkan wawasannya untuk membina masyarakat madani ( masyarakat yang mengikuti ajaran Illahi).

Bagaimanapun Rasulullah SAW tidak tunduk dengan tawaran tersebut. Rasulullah SAW tidak beranjak seincipun dengan komitmenya, malah Rasulullah semakin bersemangat. Sebagaimana yang kita saksikan dalam catatan lembaran sejarah, kaum Quraisy begitu kecewa dengan ketegasan Rasulullah SAW.

Mereka menggunakan pamanya untuk menghentikan laju dakwah beliau, tetapi Rasulullah SAW berkata:

“Sekiranya bulan diletakkan di tangan kananku dan matahari di letakkan di tangan kiriku , niscaya tidak akan sekali – kali meninggalkan dakwah Islamiyah”.

Rasulullah SAW tidak beranjak sedikitpun dalam memperjuangkan idealisme Islam biarpun digosok – gosok dengan berbagai hadiah berupa kesenangan duniawi.

Kini saatnya generasi muslim harus meningkatkan idealisme Islamiyahnya seperti apa – apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jangan sampai luntur hanya gara – gara silau terhadap kehidupan duniawi ataupun karena terjangkit virus ide pragmatis. Dengan memilih Islam sebagai agama, maka seseorang harus bergerak sesuai koridor Islam.

Insan yang Komitmen terhadap idealisme Islamiyahnya maka disetiap sendi – sendi kehidupan baik yang mencakup ekonomi, politik, sosial, budaya harus dipandang dengan kaca mata Islam.Jangan sampai pandangan kita hanya parsial saja sebab Islam tidak parsial tetapi universal.

Belajar Bahasa Arab

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template