Sabtu, 19 Januari 2008

Konsisten Dalam Idealisme Islamiyah

Islam mengajarkan umatnya supaya teguh dengan pegangan hidupnya dan setia pada idealisme Islamnya.Tetapi hanya karena harta, tahta, jabatan, dan wanita terkadang rela mengorbankan idealisme yang selama ini diyakini dan diembanya. Orang bisa dengan mudah menggadaikan idealisme, menjual aqidahnya, menelantarkan keimanannya.

Seperti pada saat sekarang ini yang terjadi di Indonesia yaitu krisis multidimensi yang berlarut – berlarut. Kita sudah sering mendengar dan melihat baik dari media cetak maupun elektronik bagaimana masyarakat mudah tersulut emosinya , hanya karena masalah sepele sudah saling bunuh, pencurian, perampokan merajalela. Kebanyakan mereka kalau ditanya ngakunya orang Islam, naudzubillah. Dimana akhlakmu? Dimana moralmu?

Ironis lagi ditambah para pejabatnya yang banyak melakukan praktek KKN ( Korupsi, Kolusi, Nepotisme) , banyak yang melakukan Ilegal loging yang mengakibatkan banjir dimana – mana, perzinaan terselebung. Ketika masih mahasiswa kebanyakan dari mereka menjadi aktifis - aktifis dakwah yang militan, bahkan banyak pula dari kalangan mereka jebolan dari pesantren – pesantren ternama. Mengapa bisa begitu?

ü Silau Kehidupan Duniawi

Inilah salah satunya yang melunturkan idealisme Islamiyah seseorang. Ketika belum punya harta yang banyak, belum punya jabatan tinggi dan secara tiba – tiba bergelimang dengan kekayaan, jabatan yang tinggi. Mereka tidak menjadikan itu semua sebagai peluang beramal shalih . Tetapi kebanyakan mereka malah menjadikan kesempatan untuk bermaksiat kepada Allah SWT dengan jurus aji mumpung. Mumpung kaya , mumpung jadi menteri, mumpung jadi bupati dan mumpung – mumpung lainya.

ü Terjangkit Virus Ide Pragmatis

Karena idealisme Islamiyah mereka sudah luntur, idealisme mereka sudah ternoda oleh pemikiran pragmatis yang hanya mengutamakan kenikmatan duniawi saja.

Menurut Drs. Adi Gunawan definisi idealisme merupakan suatu sikap dengan bingkai pada moral, estetika dan spiritual. Dan sikap idealisme inilah yang harus dijunjung tinggi oleh umat Islam.

Tetapi realitanya yang ada, ide pragmatis inilah yang menjadi pemikiran umat Islam sekarang ini. Kita harus tahu Karena pemikiran pragmatislah moral mereka menjadi bejat dan biadab. Dengan pemikiran pragmatis tersebut mereka sama saja dengan orang – orang kafir. Sebab ukuran perbuatan dalam ide pragmatis merupakan manfaat riil suatu ide untuk memenuhi kebutuhan manusia. Sedangkan Islam menilai perbuatan dengan perintah dan larangan dari Allah SWT.

Namun demikian bukan berarti Islam tidak memperhatikan kemanfaatan tetapi Islam memperhatikan kemanfaatan yang dibenarkan oleh syara’. Yaitu kemanfaatan yang sudah tersatandarisasi oleh syara’.

Maka hanyalah orang – orang yang teguh pada idealisme Islamiyahnya yang akan membangun peradaban Islam, bukan seperti orang – orang yang terjebak pada pemikiran pragmatis seperti kebanyakan umat Islam saat sekarang ini.

Kita bisa mengambil pelajaran tentang sejarah hidup Rasulullah SAW dalam hidupnya. Bagaimana idealisme Islamiyahnya kokoh dan kuat bagaikan gunung yang menancap di tanah.

Ini dapat kita pahami ketika Rasulullah SAW ditawarkan dengan berbagai kesenangan hidup oleh kaum Quraisy, agar meninggalkan perjuangan untuk mendaulatkan idealisme Islam, meninggalkan jihad, meninggalkan dakwah, dan meninggalkan wawasannya untuk membina masyarakat madani ( masyarakat yang mengikuti ajaran Illahi).

Bagaimanapun Rasulullah SAW tidak tunduk dengan tawaran tersebut. Rasulullah SAW tidak beranjak seincipun dengan komitmenya, malah Rasulullah semakin bersemangat. Sebagaimana yang kita saksikan dalam catatan lembaran sejarah, kaum Quraisy begitu kecewa dengan ketegasan Rasulullah SAW.

Mereka menggunakan pamanya untuk menghentikan laju dakwah beliau, tetapi Rasulullah SAW berkata:

“Sekiranya bulan diletakkan di tangan kananku dan matahari di letakkan di tangan kiriku , niscaya tidak akan sekali – kali meninggalkan dakwah Islamiyah”.

Rasulullah SAW tidak beranjak sedikitpun dalam memperjuangkan idealisme Islam biarpun digosok – gosok dengan berbagai hadiah berupa kesenangan duniawi.

Kini saatnya generasi muslim harus meningkatkan idealisme Islamiyahnya seperti apa – apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Jangan sampai luntur hanya gara – gara silau terhadap kehidupan duniawi ataupun karena terjangkit virus ide pragmatis. Dengan memilih Islam sebagai agama, maka seseorang harus bergerak sesuai koridor Islam.

Insan yang Komitmen terhadap idealisme Islamiyahnya maka disetiap sendi – sendi kehidupan baik yang mencakup ekonomi, politik, sosial, budaya harus dipandang dengan kaca mata Islam.Jangan sampai pandangan kita hanya parsial saja sebab Islam tidak parsial tetapi universal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tafadhol

Belajar Bahasa Arab

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template