Coba tanya pada para mahasiswa, kenapa kuliah?. Jawabanya, karena ingin sukses. Coba tanya pada para selebritis, kenapa jadi artis?. Jawabanya karena ingin sukses. Tanyalah juga kepada para pemburu PNS?. Tentu jawabanya sama, ingin sukses. Rata – rata semua orang, kalau ditanya, ingin sukses. Lantas apa hakekat sukses?.
Apakah, ketika harta berlimpah, istri cantik, punya jabatan penting, dikatakan sukses?. Atau seseorang dikatakan sukses, apabila dia telah lulus kuliah, lalu bekerja, kemudian jadi PNS, kemudian menikah, lalu punya anak, lantas tua menjalani pensiun, dan mati?. Itukah yang dikatakan sukses. Bukan ya Ikhwah, bukan itu. Salah besar kalau antum mengartikan seperti itu.
Ana muslim, antum muslim. Maka, ‘kacamata’ kita tentunya Islam. Dan hakekat sukses pun harus kita definisikan sesuai kacamata Islam. Lantas apa kesuksesan sejati yang sesuai Islam?. Dikatakan sukses apabila kita selalu di jalan Allah dan terus selalu berusaha istiqomah di jalan tersebut. Maka, kita tidak akan pernah membiarkan celah sedikit pun suatu potensi yang mengganggu untuk keluar dari jalan Allah. Bahkan harus disingkirkan sejauh – jauhnya. Misalnya, besok kita ujian, tentunya hari ini kita belajar, dan focus pada mata kuliah yang besok diujikan. Seluruh mata kuliah lain kita singkirkan. Dan hanya berkonsentrasi pada mata kuliah yang besok di ujikan. Begitu juga dengan kesuksesan sejati yang akan kita tempuh. Seluruh potensi yang menggangu kita singkirkan. Seluruhnya. Semakin tidak kita singkirkan, hidup kita pasti semrawut. Dan sedikit saja kita memberikan celah. Maka sama saja kita mengucapkan selamat datang kepada iblis laknatullah.
Wallahi Ikhwah, sungguh keadilan akhirat sangat berat. Salah mempersepsikan sukses, maka salahlah jalan kita, apabila sudah salah jalan, salahlah tujuan kita, apabila sudah salah tujuan, nerakalah tempat kita. Naudzubillah.
Manakala kita di padang masyar nanti, tidak satupun orang yang mempedulikan kita, meskipun itu bapak kita, ibu kita, anak kita sekalipun. Mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Di hari penghitungan itu, kita tidak bisa berbohong, tidak bisa mengelak. Mata, lidah, telinga, kaki, tangan bicara sendiri. Ketika diputuskan di neraka, karena lebih banyak salahnya, maka di seretlah, di buang ke jurang neraka. Tahukah antum?. Jatuhnya sampai ke dasar, memerlukan waktu tujuh puluh tahun, baru sampai dasar. Di nereka siksaan sangat menyiksa. Di setrika sampai tubuh hanjur. Lalu di pulihkan lagi, hanjur lagi, dipulihkan lagi dan terus begitu. Begitulah kalau kita salah jalan.
Iblis laknatullah, tergelincir hanya karena mempersepsikan sesuatu dengan materi. Bisa dibaca di al-Qur’an. Manakala iblis disuruh Allah menyembah Adam. Dia tidak mau, tidak patuh, hanya karena dia merasa lebih mulia dari Adam. Masak disuruh sujud pada Adam yang terbuat dari tanah sedangkan Aku ( kata Iblis) terbuat dari api. Materi ukuranya.
Marilah Ikhwah, kita raih kesuksesan yang sejati itu. Kalau kita tetap istiqomah, maka surga akan selalu menunggumu. Tergiurlah dengan surga itu. Jangan pernah kenikmatan surga di gadaikan hanya karena kenikmatan semu dan sesaat. Paling kita hidup di dunia Cuma 75 tahun. Tapi di akhirat? Kekal ya Ikhwah. Kekal. Mari kita teteskan air mata ini untuk Allah ta’ala.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tafadhol