Oleh: Gatot Supriyadi*
Salah satu strategi 'pembaratan' yang dilakukan oleh orientalis dan misioneris adalah melalui jalur pendidikan. Dimana sistem pendidikan inilah kualitas sumber daya manusia (SDM) ditentukan. Dalam sistem pendidikan, 'pembaratan' dilakukan dengan cara menggantikan corak pendidikan di negeri – negeri muslim dengan corak barat, dan mengusahakan agar pendidikan tersebut berjalan menurut gaya, prinsip dan ketentuan barat yang pragmatis dan sekularis.
Tengoklah di negara Indonesia, pendidikan berkembang sebagai sebuah industri yang bersifat ekonomis, selalu menghitung untung dan rugi. Tidak hanya itu saja yang bermasalah, kurikulum yang ditentukan oleh pemerintah pun bersifat dikotomis yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu kehidupan. Ditambah lingkungan sekolah yang jauh dari nilai – nilai syari'at Islam. Dan juga, visi, misi, dan tujuan pendidikan masih bersifat pragmatis.
Hal ini mengakibatkan :
Pertama, para pelajar dan pemuda Islam menjadi orang – orang yang inverior terhadap agamanya sendiri, mereka Islam, namun, pikiran dan perbuatanya tidak mencerminkan Islam. Bahkan mereka lebih bangga dengan pikiran dan kehidupan hedonisme ala barat. Lebih memprihatinkan lagi, mereka menjadi garda depan penentang Islam. Fenomena ini bisa dilihat dari beberapa contoh kasus di perguruan tinggi Islam, Mahasiswa yang belajar di fakultas syari'ah namun ujung – ujungnya menjadi penentang syari'at. Seperti membolehkan homo seksual, lesbian, nikah beda agama dan masih banyak lagi yang lainya.
Kedua, Komersialisasi lembaga pendidikan ini berdampak pada makin mahalnya biaya pendidikan, sehingga warga miskin tidak menjangkau uang gedung, buku, laboratorium, seragam, dan biaya – biaya lainya yang kadang tidak realistis. Seakan – akan membenarkan statemen yang mengatakan sekolah yang bermutu hanya untuk orang borjuis saja, yaitu untuk kalangan menengah keatas. Lantas dimana rahmatallil'alamin-nya Islam?
Ketiga, kurikulum masih bersifat dualisme atau dikotomis, yaitu memisahkan ilmu agama dan ilmu kehidupan. Akibatnya, akan memberikan dampak kepada pemikiran yang dikotomis. Menurut Dr. Ahmad Tafsir seorang pakar pendidikan, apabila dualisme kurikulum tidak diwaspadai, maka akan datang dua ancaman. Salah satunya yang paling serius yaitu akan menyebabkan masuknya sekularisme kedalam pemikiran Islam. Dimana daerah yang mencangkup keagamaan hanya dibatasi dengan jam mata pelajaran agama saja. Dan daerah keagamaan tidak masuk dalam mata pelajaran umum yang terkait ilmu kehidupan. Sehingga peran agama menjadi kecil dalam pembentukan pola pikir anak didik. akibatnya, pola pikir anti agamalah yang terbentuk.
Keempat, akibat dari visi, misi, dan tujuan pendidikan yang pragmatis mengakibatkan niat para pelajar dan pemuda muslim menjadi tidak murni lagi mencari ridho Allah saja. Namun niatnya lain – lain. Ada yang hanya menginginkan gelar saja, dan secepatnya meraih gelar tersebut supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan segera kembali. Sehingga hanya menuai keuntungan semata. Ada juga, karena hanya menginginkan pekerjaan yang layak dimata mereka, atau hanya ingin menaikkan status sosial saja. Niat – niat seperti itu akan menjadikan mereka syirik kepada Allah SWT, Naudzubillah!
Kelima, manakala lingkungan jauh dari nilai – nilai syari'at maka semua civitas sekolah baik guru atau dosen, anak didik atau mahasiswa, karyawan dan masyarakat kampus akan merasa asing terhadap kultur yang belandaskan syari'at. Mereka tidak akan merasa berdosa dan takut melanggar syari'at baik dilingkungan pendidikan maupun umum. Seperti menjaga hijab, penutupan aurat, berkhalwat, pacaran, merokok dan lain – lain.
Pendidikan alternatif yang Islami
Untuk membendung sistem pendidikan yang pragmatis dan sekularis, maka mau tidak mau harus ada model pendidikan alternatif yang Islami. Gambaranya, model pendidikanya sangat komperehensif. Yaitu sebuah model pendidikan yang kurikulumnya sistematis, mencangkup aspek akal, rohani ( hati ) dan perbuatan, kemudian lingkungan belajar yang agamis, menjunjung tinggi nilai –nilai syari'at, kemantapan visi, misi dan tujuan pendidikan dalam Islam ditambah biayanya dapat terjangkau semua kalangan masyarakat. Hal itu, sebenarnya sudah diterapkan oleh Rasulullah SAW ribuan tahun yang lalu.
Dalam Islam, pendidikan diarahkan bagi terbentuknya individu – individu yang beradab, berkepribadian Islam. Hal ini tercermin dalam sikap, pikiran dan akhlaknya yang berlandaskan Islam dan mampu Menguasai sains.
Institusi–institusi pendidikan sepatutnya melahirkan individu-individu yang baik, memiliki budi pekerti, nilai-nilai luhur dan mulia, yang ikhlas menyadari tanggung-jawabnya terhadap Rabnya, serta memahami dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada dirinya dan masyarakatnya, kemudian berupaya terus-menerus untuk mengembangkan setiap aspek dari dirinya menuju kemajuan sebagai manusia yang utuh.
Maka tidaklah mustahil peradaban Islam akan segera terwujud, manakala model pendidikanya benar dan bermutu. Sehingga mampu melahirkan 'salahudin – salahudin baru' yang siap mengemban peradaban Islam.
Terahir, hendaknya para orang tua yakin dan percaya diri memasukkan anak- anaknya ke sekolah – sekolah Islam yang mempunyai kriteria – kriteria seperti diatas, kalau pun tidak ada maka dipilih kriteria yang mendekatinya. Jangan memilih sekolah yang hanya mampu mengantarkan kebahagiaan duniawi saja seperti model pendidikan barat. Yang jelas – jelas ingin meghanjurkan Islam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tafadhol