
Dimana kini kan kucari, keadilan Kutanya pewaris kolong jembatan
Ternyata hanya membisu, tak mengerti apa – apa
Kudatangi pelancong disco
Kok, malah tertawa – tawa, bodoh
Kujemput kawanan tuna susila,
Katanya
Lupakan saja nyanyianmu, kemari peluk pantatku!
Kuterobos relung – relung pasar
Pedagang – pedagang meneriakkan slogan devaluasi
Kutelusuri sepanjang jalan dan belantara
Pencuri – pencuri mendirikan penjara sendiri
Kutanya para nelayan.
Sambutnya langit masih tertutup awan badai
Kupanggil gurami kutanya serius
Keluhnya, aku keracunan, lautnya polusi
Kutelusuri diantara pelosok – pelosok desa
Jangkerik yang dulu asyik bernyanyi
Kini mulai gelisah
Beberapa cecak merana, tercuri ikat pinggangnya.
Hanya tokek yang masih tetap bernyanyi
Menghitung undian nasib yang lagi naif
Kudatangi seorang syekh,
Aku mengadu nasib bumi
Oh, syekh malah menjawab dengan tangisnya
Seraya meneruskan dzikir seraya mengangkat doanya
Kupeluk mahasiswa, kutanya dalam frustasinya
Dimana keadilan sejati?
Diakhirat, dekat hotel sagor
Bagaimana keadaanmu kini sahabat?
Lihat kacamataku, aku makin buta dengan diriku
Naluriku makan SKS hingga kenyang
Kuintip anopeles yang sembunyi di jalur gaza
Kupanggil kantor di Amerika
Dan baca tentara AIDSnya
Kuman jantung dan wabah kematian
Seraya, mereka teriak bersama,
Biarkan aku datang
Tuk membagi keadilan sejati

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tafadhol