Selasa, 27 Mei 2008

Keadilan

Dimana kini kan kucari, keadilan

Kutanya pewaris kolong jembatan

Ternyata hanya membisu, tak mengerti apa – apa

Kudatangi pelancong disco

Kok, malah tertawa – tawa, bodoh

Kujemput kawanan tuna susila,

Katanya

Lupakan saja nyanyianmu, kemari peluk pantatku!

Kuterobos relung – relung pasar

Pedagang – pedagang meneriakkan slogan devaluasi

Kutelusuri sepanjang jalan dan belantara

Pencuri – pencuri mendirikan penjara sendiri

Kutanya para nelayan.

Sambutnya langit masih tertutup awan badai

Kupanggil gurami kutanya serius

Keluhnya, aku keracunan, lautnya polusi

Kutelusuri diantara pelosok – pelosok desa

Jangkerik yang dulu asyik bernyanyi

Kini mulai gelisah

Beberapa cecak merana, tercuri ikat pinggangnya.

Hanya tokek yang masih tetap bernyanyi

Menghitung undian nasib yang lagi naif

Kudatangi seorang syekh,

Aku mengadu nasib bumi

Oh, syekh malah menjawab dengan tangisnya

Seraya meneruskan dzikir seraya mengangkat doanya

Kupeluk mahasiswa, kutanya dalam frustasinya

Dimana keadilan sejati?

Diakhirat, dekat hotel sagor

Bagaimana keadaanmu kini sahabat?

Lihat kacamataku, aku makin buta dengan diriku

Naluriku makan SKS hingga kenyang

Kuintip anopeles yang sembunyi di jalur gaza

Kupanggil kantor di Amerika

Dan baca tentara AIDSnya

Kuman jantung dan wabah kematian

Seraya, mereka teriak bersama,

Biarkan aku datang

Tuk membagi keadilan sejati



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tafadhol

Belajar Bahasa Arab

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template