Selasa, 10 Februari 2009

Utuh

Hati ini
Hati sufi
Jiwa ini
Jiwa pengembara
Akal ini
Akal pujangga
Watak ini
Watak satriya
Jasad ini
Jasad syuhada
Bergerak dan menggerak
(Surabaya, 5 Maret 2008)




Manusia Langit

Dimana ini?
Ku tak tahu
Jiwaku asing
Ragaku asing

Kuberanikan menatap
Pada dunia baru
Namun
Ah….!!!!!
Silau
Menggigau
Gigi gemelutuk
Tak berunjuk

Tahukah engkau?
Itu hidayahmu
Maka,
Biarkan butamu
Biarkan tulimu
Biarkan asingmu
Jelma manusia langit
(Surabaya,7 Mei 2008)


Senin, 09 Februari 2009

Khawarij: Antara Stigma dan Kajian Sunnah

Riwayat mengatakan, kelak di ahir zaman ada kaum Muslim yang suka mencela Muslim lain. Tapi membiarkan penyembah berhala



Oleh: Muhammad Arifin Ismail, M.A, M.Phil *

Akhir-akhir ini istilah khawarij menjadi stigma dan olok-olok untuk meyatakan kepada setiap kelompok yang dianggap “keras” dalam Islam. Tak pelak, para pejuang mujahidin seperti Hamas pun, bisa disebut khawarij. Padahal dalam sejarah tamadun Islam, khawarij merupakan gerakan yang mempunyai sifat-sifat tertentu dengan definisi tertentu. Oleh sebab itu setiap Muslim, apalagi pemimpin gerakan Islam, jangan terlalu mudah untuk menghukum sesuatu gerakan menjadi khawarij sebelum mengenal metodologi pemikiran mereka.

Imam Syahrastani dalam kitab al Milal wan Nihal menyatakan bahwa khawarij adalah: ”semua kelompok masyarakat yang keluar daripada ketaatan kepada kepemimpinan (imam) yang sah dan yang sudah disepakati oleh mayoritas umat Islam, samasa kelompok tersebut terjadi pada masa kepemimpinan sahabat khulafaurrasyidin, atau masa kepemimpinan tabi’in (pengikut sahabat), atau masa kepemimpinan umat Islam di setiap zaman ”( Syahrastani, Kitab Al Milal wanNihal , jilid 1, hal..129 ).


Sejarah Khawarij

Sejarah mencatat bahwa kaum khawarij muncul setelah peristiwa ”tahkim” antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah, sebagai upaya mencari jalan damai dalam mengakhiri peperangan Siffin.

Pada awalnya Khalifah Ali menginginkan Abdullah Ibnu Abbas sebagai juru damai dari pihak Ali, sebab dia merupakan sahabat yang sangat memahami kitab suci Al-Quran, tetapi kelompok Qurra mengusulkan agar juru damai diberikan kepada Abu Musa al Asyari, sebab menurut mereka Abu Musa al Asyari selama ini tidak terlibat dalam pertikaian dan peperangan dan pergi mengasingkan diri. ( Ibnu Kasir, Bidayah wan Nihayah, jilid 7, hal. 427 ).

Kelompok Muawiyah mengutus Amr bin Ash sebagai juru damai. Tatkala Khalifah Ali bin Abi Thalib mengutus Abu Musa al Asyari ke Daumatul Jandal (tempat perjanjian damai), maka kelompok khawarij mengisytiharkan untuk menentang Ali bin Abi Thalib dengan mengutus Zur’ah ibn Burj al Tai dan Harqus ibn Zuhair al Sa’diy untuk menemui Ali dan berkata: ”Tiada hukum melainkan hukum daripada Allah....Wahai Ali sekiranya engkau tidak mau meninggalkan urusan tahkim dengan kitab Allah ini, niscaya aku akan membunuhmu. Apa yang aku mau daripada tindakan ini adalah rahmat Allah dan keridhaanNya semata-mata.”

Selanjutnya kelompok khawarij berkumpul di rumah Abdullah bin Wahab al Rasiby dan memilih Abdullah al Rasiby sebagai pemimpn kelompok (Ibnu Kasir, Bidayah wan Nihayah, jilid 7, hal. 441,443).

Rasiby dipilih sebab dia sangat rajin beribadah sehingga dinyatakan bahwa tempat-tempat yang pernah dia sujud menjadi kering dan rosak lantaran kesungguhannya dan banyak bersujud sehingga dia digelar dengan Dzul Bayyinat ”orang yang mempunyai banyak bukti tempat sujud.” ( Ibnu Kasir, Bidayah wan Nihayah, jilid 7, hal,.450 ).

Dalam tahkim, Abu Musa al Asyari berdiri dan menyatakan bahwa Khalifah Ali dan Muawiyah diturunkan dan pemilihan kekhalifahan diserahkan kembali kepada umat. Amr bin Ash menyatakan bahwa sebab khalifah Ali telah diturunkan, maka saya melantik Muawiyah sebagai khalifah. Amr bin Ash berijtihad demikian sebab kekhawatiran terjadi kekacauan di tengah umat sewaktu tidak ada pemimpin atau sewaktu pemilihan kepemimpinan. Sebenarnya pihak Ali bin Abi Thalib tidak setuju dengan keputusan tersebut, tetapi untuk menghindari pertumpahan darah dan menjaga perpaduan umat maka mereka menerima keputusan tahkim.

Setelah keputusan tahkim, Sayidina Ali bin Abi Thalib membawa pasukannya ke Kufah, tetapi di tengah perjalanan sebagian pasukan tidak redha dengan keputusan tahkim, dan mereka memisahkan diri dari pasukan Ali serta memilih untuk tinggal di kampung Harurah (dekat Kufah), dan mereka menyatakan kepada Ali sebagaimana yang dinyatakan oleh Mahraz bin Jarisy: “Wahai Amirul Mukminin, Tidak ada jalan kembali kecuali hanya dengan kitabullah, Demi Allah sesungguhnya aku khawatir kembalinya kita ini hanya mewariskan kehinaan.” (Tarikh Thabari, jilid 8, m.s. 196 ). Diantara pengikut mereka, Kharit bin Rasyid an Naji juga menyatakan kepada Ali bin Abi Thalib : “Demi Allah, kami tidak lagi mantaati perintahmu, dan tidak akan shalat dibelakangmu, dan sesungguhnya aku telah memisahkan diri daripadamu karena engkau telah menghukum dengan kitab tetapi engkau lemah dalam menegakkan kebenaran, dan engkau mengikuti kelompok yang dzalim, maka saya menolak untuk mengikutimu dan membalas mereka yang mendzalimimu, dan bagi kamu semua keterangan yang jelas ” (Imam Thabari, Tarikh Thabari, jilid 8, hal. 197).

Ibnu Kasir menyatakan bahwa jumlah pasukan yang keluar tersebut sekitar 12 ribu atau 16 ribu orang dan diantara mereka 8.000 terdiri daripada Qurra, dan setelah Sayidina Ali bin Abi Thalib mengantar Ibnu Abbas memberikan kesadaran kepada mereka , maka 4000 ribu orang kembali kepada kebenaran dan bertaubat. (Ibnu Kasir, Bidayah wan Nihayah, jilid 7, hal..433,4350).

Dengan bilangan pengikut yang banyak tersebut, maka kelompok khawarij tersebut terbagi dalam berbagai kelompok.

Fakhruddin ar razi dalam ”Itiqadat firaqul muslin wal musyrikin” menyebutkan mereka terbagi dalam duapuluh satu kelompok, al Baghdadi dalam ’Alfarqu bainan firaq” menyebutkan mereka terbagi dalam dua puluh kelompok, ( Imam Baghdadi, al Farqu bainal Firaq , hal. 49-77), al Malathi dalam ”al-tanbih warrrad ala ahlul ahwa ” menyebutkan mereka terbagi dalam sepuluh kelompok (Mustafa Helmi, Khawarij, hal.53) dan Syahrastani dalam ”Al Milal wan Nihal ” menyebutkan mereka terbagi dalam delapan kelompok besar (Syahrastani, hal. 129-148)

Ajaran Khawarij

Shahrastani membagi khawarij dalam delapan kelompok yaitu “Muhakimah”, “Azariqah”, “Najadat”, “Baihasiyah”, “Ajaridah”, “Tsa’alibah”, “Ibadiyah” dan “Sufriyah Ziyadihah”.. Dalam kertas kerja ini penulis jelaskan ke delapan kelompok besar tersebut secara ringkas :

1. Muhakimah artinya orang yang berhukum dengan hukum Allah karena mereka selalu berkata : ”Tiada hukum kecuali dengan hukum Allah”. Mereka menentang khalifah Ali dan menganggap Sayidina Ali telah berdosa sebab menerima hukum dari manusia karena sayidina Ali menerima keputusan tahkim. Prinsip mereka adalah : (a) mengkafirkan Ali dan pengikutnya (b) Wajib menurunkan atau membunuh pemimpin jika berbuat dzalim (c) Mengkafirkan mereka yang berbuat dosa (d) dibenarkan membunuh anak-anak dan kaum wanita.

2. Azariqah adalah pengikut Nafi bin Al Azraq yang menyatakan : (a) Sesiapa yang menyalahi mereka adalah musyrik (b) Sesiapa yang tidak berhijrah bersama mereka adalah syirik (c) Wajib menguji sesiapa yang berhijrah bersama mereka, dan membunuh mereka yang diangap munafik (d) Membunuh anak-anak dan wanita yang tidak sesuai dengan prinip mereka (e) Menganggap negeri mereka adalah Darul hijrah dan negeri kaum Muslimin di luar mereka sebagai Darul Kufr (f) Sesiapa yang berbuat dosa besar adalah kafir. Menurut al Malathi mereka ini orang-orang yang wara’, dan tekun beribadah siang dan malam.

3. Najadat adalah pengikut Najdat bin Amir yang menyatakan: (a) kafir sesiapa yang tidak mengikuti mereka (b) Kafir mereka yang tidak mengikuti pemimpin mereka (c) Pengikut mereka tidak akan masuk neraka, walaupun berdosa akan diazab bukan dengan api neraka (d) Berlanjutan dalam dosa kecil menjadi syirik (e) Boleh membunuh ahludz dzimmah yaitu mereka yang tidak mengikuti ajaran mereka. Menurut al Malathi mereka ini juga mengkafirkan ulama salaf dan khalaf.

4. Baihasiyah yaitu pengikut Baihas al Haisham bin Jabir yang menyatakan : (a) Seseorang belum dianggp Muslim kecuali setelah mengenal Allah dan rasulNya. (b) Tiada haram kecuali yang diharamkan oleh Al-Quran dan yang tidak disebutkan dalam Al-Quran tentang haramnya berarti halal (c) Tidak membedakan antara ushul aqidah dan hukum fiqhiyah.

5. Ajaridah yaitu pengikut Abdul Karim bin Ajrad yang menyatakan : (a) Tidak boleh mengatakan kafir atau Muslim terhadap seorang anak Muslim sampai dia diajak memeluk Islam dan waib diajak memeluk Islam ketika mencapai usia baligh (b) Membenarkan kawin dengan cucu dari keturunan anak perempuan (c) wajib menurunkan pemimpn yang dzalim dan menghukum pengikutnya. (d) Surah Yusuf tidak termasuk dalam bagian surah Al-Quran.

6. Tsa’labiyah yaitu pengikut Tsa’labah bin Musytakan yang berpendapat : (a) Orang yang tidak mengikuti mereka bukan kafir dan juga bukan Muslim (b) Sesiapa yang meninggalkan shalat menjadi kafir (c) Mengambil zakat daripada hamba sahaya.(d) Menyatakan Allah bersifat dengan sifat manusia (tasybih) sebagaimana pendapat Jabariyah Jahm bin Sofyan.

7. Ibadiyah yaitu pengikut Abdullah bin Ibadh at Tamimiy yang menyatakan ajarannya bahwa : (a) Orang Muslim yang tidak menyetujui kelompoknya dianggap kafir tetapi bukan kafir musyrik (b) Negeri Muslim yang tidak setuju dengan ajaran dan pendapat mereka adalah negeri tauhid (bukan negeri Islam ) dan kawasan tentara negeri tersebut merupakan Darul Harb (d) Orang yang melaksanakan ajaran Al-Quran termasuk mukmin dan yang tidak melaksanakannya dinamakan kafir musyrik (e) Semua dosa besar dan kecil merupakan perbuatan syirik (f) Boleh membunuh sesiapa yang tidak setuju dengan pendapat mereka.

8. Sufriyah Ziyadiyah yaitu pengikut Zayad bin Ashfar yang menyatakan: (a) Dosa yang terkena hukum hudud tidak menjadi kafir, sedang dosa yang tidak ada hukum hudud seperti meninggalkan shalat dan puasa menjadi kafir ( b) Tidak mengkafirkan sesiapa yang tidak mengikuti mereka.

Khawarij dalam kajian Sunnah

Abu Said al Khudri berkata; Sewaktu Rasulullah saw sedang membahagi-bagikan harta (kepada kaum Muslimin) tiba-tiba Dhul Khuwaysirah al Tamimiy datang dan berkata: ”Berlakulah adil wahai rasulullah”. Mendengar teguran yang kasar itu baginda berkata: ”Celakalah kamu, siapakah yang akan menegakkan keadilan sekiranya aku tidak melakukannya?”. Umar bin Khtatab mencelah, ”Wahai Rasulullah, adakah Anda membenarkanku untuk memancung lehernya?”. Baginda menjawab: ” Biarkanlah dia karena suatu hari nanti dia akan mempunyai pengikut yang akan mencela shalat kamu semua dengan membandingkan dengan shalat mereka, mereka juga mencerca puasa kamu dibandingkan dengan puasa mereka, mereka keluar daripada agama (Islam ) sederas anak panah yang keluar daripada busurnya ” ( Sahih Muslim/2456; Sahih Bukhari/6933; Kitab Muwattha/156; Sunan Abu Daud/6741).

Rasulullah saw bersabda: ”Nanti akan muncul dinatara umatku kaum yang membaca Al-Quran, bacaan kamu tidak ada nilainya dibandingkan bacaan mereka, dan shalat kamu tidak ada nilainya dibandingkan shalat mereka, dan puasa kamu tidak ada artinya dibandingkan puasa mereka, mereka membaca Al-Quran sehingga kamu akan menyangka bahwasanya Quran itu milik mereka sahaja, padahal sebenarnya Quran itu akan melaknat mereka, Tidaklah shalat mereka melalui kerongkongan mereka, mereka itu akan memecah agama Islam sebagaimana keluarnya anak panah daripada busurnya ” (Sahih Muslim/ 2467, Sunan Abu Daud/4748 ).

Said al Khudri menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Nanti akan muncul diantara kamu kaum yang menghina shalat kamu dibandingkan dengan shalat mereka, dan puasa kamu dibandingkan dengan puasa mereka, amal perbuatan kamu dibandingkan dengan amap perbuatan mereka, mereka itu membaca Al-Quran tetapi bacaan mereka tidakakan melewati kerongkongan mereka, dan mereka akan memecah agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya ” (Sahih Bukhari/5058 ).

Sayidina Ali bin Abi Thalib menyatakan bahwasanya dia mendengar Rasulullah saw bersabda: ”Pada akhir zaman nanti akn muncul kaum berusia muda (ahdasul asnan) berpikiran pendek (sufahaul ahlam), mereka memperkatakan sebaik-baik ucapan kebaikan, mereka membaca Al-Quran tetapi bacaan mereka itu tidak melebihi (melampui) kerongkongan mereka, mereka memecah agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya maka dimanapun kamu menjumpainya maka perangilah mereka sebab dalam memerangi mereka terdapat pahala disisi Allah pada hari kiamat kelak. ” (Sahih Bukhari/6930, Sahih Muslim/2462, Sunan Abu Daud/4767, Sunan Nasai/4107 Sunan Ibnu Majah/168, Sunan Ahmad/616 ).

Dari Anas berkata: Ada seorang lelaki pada zaman Rasulullah berperang bersama Rasulullah dan apabila kembali (dari peperangan) segera turun dari kenderaannya dan berjalan menuju masjid nabi melakukan shalat dalam waktu yang lama sehingga kami semua terpesona dengan shalatnya sebab kami merasa shalatnya tersebut melebihi shalat kami, dan dalam riwayat lain disebutkan kami para sahabat merasa ta’ajub dengan ibadahnya dan kesungguhannya dalam ibadah, maka kami ceritakan dan sebutkan namanya kepada Rasulullah, tetapi rasulullah tidak mengetahuinya, dan kami sifatkan dengan sifat-sifatnya, Rasulullah juga tidak mengetahuinya, dan tatkala kami sednag menceritakannya lelaki itu muncul dan kami berkata kepada Rasulullah: Inilah orangnya ya Rasulullah. Rasulullah bersabda : ”Sesungguhnya kamu menceritakan kepadaku seseorang yang diwajahnya ada tanduk syetan. Maka datanglah orang tadi berdiri di hadapan sahabat tanpa memberi salam. Kemudian Rasulullah bertanya kepada orang tersebut : ” Aku bertanya kepadamu, apakah engkau merasa bahwa tidak ada orang yang lebih baik daripadamu sewaktu engkau berada dalam suatu majlis. ” Orang itu menjawab: Benar”. Kemudian dia segera masuk ke dalam masjid dan melakukan shalat dan dalam riwayat kemudian dia menuju tepi masjid melakukan shalat, maka berkata Rasulullah: ”Siapakah yang akan dapat membunuh orang tersebut ? ”. Abubakar segera berdiri menuju kepada orang tersebut, dan tak lama kembali. Rasul bertanya : Sudahkah engkau bunuh orang tersebut? Abubakar menjawab : ”Saya tidak dapat membunuhnya sebab dia sedang bersujud ”. Rasul bertanya lagi : ”Siapakah yang akan membunuhnya lagi? ”. Umar bin Khattab berdiri menuju orang tersebut dan tak lama kembali lagi. Rasul berkata: ”Sudahkah engkau membunuhnya ? Umar menjawab: ”Bagaimana mungkin saya membunuhnya sedangkan dia sedang sujud”. Rasul berkata lagi ; Siapa yang dapat membunuhnya ?”. Ali segera berdiri menuju ke tempat orang tersebut, tetapi orang terebut sudah tidak ada ditempat shalatnya, dan dia kembali ke tempat nabi. Rasul bertanya: Sudahkah engkau membunuhnya ? Ali menjawab: ”Saya tidak menjumpainya di tempat shalat dan tidak tahu dimana dia berada. ” Rasulullah saw melanjutkan: ”Sesungungguhnya ini adalah tanduk pertama yang keluar dari umatku, seandainya engkau membunuhnya, maka tidaklah umatku akan berpecah. Sesungguhnya Bani Israel berpecah menjadi 71 kelompok, dan umat ini akan terpecah menjadi 72 kelompok, seluruhnya di dalam neraka kecuali satu kelompok ”. Sahabat bertanya : ” Wahai nabi Allah, kelompk manakah yang satu itu? Rasulullah menjawab : ”Al Jamaah”. (Musnad Abu Ya’la/ 4127, Majma’ Zawaid/6-229).

Rasulullah saw bersabda: ”Nanti pada akhir zaman akan muncul kaum mereka membaca Al-Quran ttetapi tidak melebihi kerongkongan, merka memecah Islam sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya, dan mereka akan terus bermunculan sehingga keluar yang terakhir daripada mereka bersama Dajjal, maka jika kamu berjumpa dengan mereka, maka perangilah sebab mereka itu seburuk-buruk makhluk dan seburuk-buruk khalifah. ” ( Sunan Nasai/4108, Sunan Ahmad/19783 )

Abu Said al Khudri menceritakan bahwa Ali –sewaktu berada di Yaman-menghantarkan Dhahiibah dalam taribahnya kepada Rasulullah. Barang tersebut dibagi-bagikan rasulullah kepada : Aqra’ bin Habis al Handzali, dan Aynah bin Badr al Fazari, Alqamah bin Alasah al Amiri, dan salah seorang daripada Bani Kilab, dan Zaid al Khair al Thai, dan salah seorang Bani Nabhan. Pembahagian itu membuat kaum Qurasiy dan Anshar merasa tidak senang sehingga berkata : Ya Rasulullah, baginda telah memberikannya kepada kelompok Askar daripada Najad dan meninggalkan kami ”. Rasulullah menjawab: ”Aku berbuat demikian, semata-mata untuk menjinakkan hati mereka. ” Abu Said melanjutkan: Tidak lama kemudian datang seorang lelaki yang buta, lebar dahinya, lebat janggutnya, gundul kepalanya berkata: ”Ya Muhammad, bertakwalah kamu kepada Allah”. Baginda berkata : ”Siapakah lagi yang akan taat kepada Allah jika aku tidak taat kepadaNya. Dia (Allah) telah memberikan kepercayaan kepadaku untuk menjaga bumi ini, mengapa engkau tidak percaya kepadaku ?..Abu said melanjutkan: ”selanjutnya seorang lelaki –menurut sebagian riwayat Khalid bin Walid-telah meminta izin kepada Nabi untuk membunuh lelaki tersebut tetapi baginda melarangnya. Setelah lelaki itu pergi rasulullah saw bersabda : ”Sesungguhnya dari keturunan lelaki ini nanti akan muncul sebuah kaum yang membaca Al-Quran teapi ia tidak melepasi pangkal tengkorak mereka. Mereka mmecah Islam sebagaimana keluarnya ank panah dari busurnya. Mereka membunuh umat Islam dan membiarkan umat penyembah berhala. Sekiranya aku menjumpai mereka, niscaya aku akan memerangi mereka seperti yang menimpa kaum Ad. ” (Sahih Bukhari/3344; Sahih Muslim/2451).

Dari hadis diatas dapat diambil kesimpulan bahwa diantara umat Muhammad ada kaum yang akan keluar dari jamaah umat Islam sampai akhir zaman dengan sifat-sifat sebagai berikut :

1. Mencela dan menuduh kaum yang tidak mengikutinya dengan tuduhan kafir atau sesat sebagaimana mereka berkata kepada Rasulullah: “Wahai rasulullah, bersikap adilah kamu.”

2. Buruk sangka kepada kaum lain sebagimana mereka buruk sangka kepada Rasulullah.

3. Berlebih-lebihan dalam ibadah sehingga menghina ibadah kaum yang lain.

4. Merasa lebih baik daripada kaum Muslimin yang lain.

5. Memerangi sesama kaum Muslimin dan membiarkan penyembah berhala.

6. Kurang ilmu dan kurang dalam pengalaman.

Khawarij kontemporer.

Sebagaimana hadits diatas menyebutkan bahwa kelompok khawarij tersebut akan terus bermunculan sampai kedatangan Dajjal sebelum hari kiamat. Hadis juga tidak menyebutkan nama kelompok, tetapi memberikan penjelasan beberapa sikap dan sifat mereka, sehingga umat Islam dapat melihat jika suatu kelompok mempunyai sifat dan ciri-ciri khawarij masa lalu, dan sesuai dengan sifat yang diberikan oleh hadis Rasulullah maka hal itu merupakan tanda kelompok khawarij, walaupun kelompok tersebut tidak memakai nama khawarij. Dr.Nasir bin Abdul Karim al Aql dalam kitabnya ”Al Khawarij” menyatakan bahwa sifat-sifat khawarij adalah :

1. Mengkafirkan orang yang berbuat dosa besar dan menghukum kaum Muslimin yang tidak sepaham dengan mereka dengan kafir.

2. Tidak mengikuti ulama-ulama kaum Muslimin baik dalam akidah maupun dalam amalan.

3. Keluar dari jamaah kaum Muslimin, dan melakukan muamalah dengan kaum Muslimin sebagaimana muamalah dengan kafir, serta menghalalkan harta dan darah mereka.

4. Memakai "nash-nash" amr makruf dan nahi munkar kepada pendapat-pendapat para ulama dan menghina mereka serta membunuh sesiapa yang bercanggah (berlawanan) dengan pendapat mereka.

5. Mayoritas mereka sibuk dengan membaca Al-Quran tanpa memahaminya dengan pemahaman yang baik.

6. Menampakkan tanda-tanda yang zahir dalam ibadah dan berlebih-lebihan dalam ibadah sehingga menghina ibadah kelompok yang lain.

7. Lemah dalam ilmu fiqah (fikih) dan seluk beluk hukum syariat.

8. Berpendapat tanpa rujukan kepada sahabat, atau ulama fiqah (fikih).

9. Merasa lebih hebat daripada ulama terdahulu, sehingga kadang-kadang merasa lebih hebat daripada ulama mujtahidin dan sahabat.

10. Keliru dalam metodologi mengambil keputusan hukum sehingga mengambil ayat ancaman tanpa melihat ayat-ayat janji; mengambil ayat-ayat yang untuk orang kafir ditujukan kepada orang Muslim yang tidak sepaham dengan mereka sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Umar: Mereka mengambil ayat untuk orang kafir ditujukan kepada orang Muslim. ”

11. Kurang ilmu dengan sunnah dan hadits nabi yang sangat luas, dan hanya mengambil yang suai dengan pemahaman mereka sahaja.

12. Mengangap setiap orang yang tidak sepaham dengan mereka sebagai salah dan sesat, tanpa meneliti lebih mendalam.

13. Memutuskan sesuatu tanpa ilmu yang mendalam, dan kajian yang luas.

14. Bersikap kasar, teras, tanpa memahami keadaan orang lain, dan suka bertengkar dengan orang lain.

15. Menghukum sesuatu hanya dengan anggapan dan dzan,

16. Tidak memiliki wawasan yang luas, berpikiran sempit, tidak sabar, dan ingin mendapatkan natijah (nilai) amal dengan segera.

17. Memusuhi dan memerangi sesama kaum Muslimin, dan membiarkan kaum kafir serta kaum penyembah berhala. (Nasr al Aql, AlK hawarij, hal..26)

Selanjutnya Nasir al Aql berkata sifat-sifat khawarij ini masih terdapat pada kaum Muslimin seperti pada kelompok ”Takfir wal Hijrah” sehingga terlihat dalam kelompok tersebut anak-anak muda yang belum mempunyai ilmu yang cukup dan tidak merujuk ilmunya kepada ulama-ulama mujtahidin, tetapi mereka hanya saling belajar sesama mereka atau hanya dengan membaca kitab dengan pemahaman sendiri secara harfiyah tanpa merujuk kepada ulama yang pakar dibidangnya, walaupun mereka kadangkala terdiri dari kaum yang terpelajar dalam bidang akademik, tetapi tidak tafaqquh dalam agama. Kelompok seperti ini merupakan kelanjutan daripada kelompok khawarij ibadiyah pada masa terdahulu. (Nasr Aql, Al Khawarij, hal.44).

Dr. Umar Abdullah Kamil dalam kitab ”Al Mutatharrifun : Khawarij al-judud” menyatakan bahwa diantara ciri Khawarij kontemporer ini adalah :

1. Fanatik atas pendapat sendiri (ta’assub) dan tidak mengakui kebenaran pendapat yang lain, walaupun pendapat yang lain berdasarkan dalil syar’i, sehingga seakan akan merka menyatakan: ”pendapatku benar tidak ada salah sedikitpun, dan pendapat yang lain adalah salah dan tidak memiliki kebenaran walau sedikit. ”

2. Memuliakan ulama dari kelompok mereka dan berbangga dengan kelompok mereka sahaja serta menghina, merendahkan, kelompok lain, dan mencari kekuarangan dan kelemahan ulama atau pemimpin dari kelompok yang lain.

3. Taqlid kepada pemimpin, kelompok dan kitab-kitab mereka dengan taqlid buta tetapi pada saat yang sama mereka mencela kelompok madzhab yang bertaqlid dengan imam mazhab fiqih sebab tidak sesuai dengan pendapat mereka.

4. Menutup pikiran daripada kebenaran yang disampaikan oleh pihak lain walaupun pihak lain mempunyai dalil yang jelas.

5. Menutup diri daripada mendalami ilmu pengetahuan dan memperluas wawasan keagamaan, dan membatasi diri dengan pengajian kelompok, kitab-kitab tertentu, dengan rujukan ulama kelompok serta menamakan kelompok mereka dengan kelompok yang selamat (firqah najiyah).

6. Kekurangan ilmu dan memahami agama dengan tidak seimbang, dan melebihkan satu ilmu dan memandang rendah ilmu yang lain.

7. Mudah memberikan fatwa terhadap suatu hukum halal dan haram, kafir dan syirik, sesat dan bidah tanpa memiliki kemampuan untuk memahami nash-nash Al-Quran dan hadis dan tidak memiliki kemampuan untuk menarik kesimpulan dari suatu hukum.

8. Menuduh ulama terdahulu dengan tuduhan jahil dan sesat sebab mereka tidak memahami metodologi ushul fiqah (ushul fikih), tidak memahami nash qathi dan dzanni, tidak memahami perbedaan ulama mujtahid dalam mengambil hukum.

9. Kaku kepada kelompok lain, sehingga mereka tidak akan memberi salam jika berjumpa dengan kelompok yang lain, tetapi akan berpelukan jika berjumpa dengan kelompoknya sendiri. Mereka tidak peduli dengan keadaan kelompok lain tetapi sibuk membantu kelompoknya sendiri.

10. Pemahaman yang salah terhadap salaf, sehingga mereka menyangka hanya kelompok mereka sahaja yang mengikut ulama salaf, sedangkan ulama lain tidak mengikuti salaf. Padahal mengikuti salaf adalah mengikuti akan kaedah memahami nash yang berkaitan dengan akidah, hukum dan akhlak dengan mengikuti metodologi penafsiran nash, dan merujuk kepada cara salaf dalam berijtihad dan memutuskan hukum.

11. Bersikap keras dan memberatkan, sehingga mereka tidak mengenal adanya keringanan (rukhsah), kemudahan di dalam hukum. (Umar Abd. Kamil, al Mutatharrifun, 1998, hal.111-124).

Kesalahan khawarij dalam metodologi keilmuan

Dr. Umar Abd Kamil juga menyatakan bahwa kelompok Khawarij bersikap demikian karena mereka salah dalam metodologi keilmuan seperti :

a. Kesalahan dalam metode berfikir tanpa membedakan antara kulliyah dan juziyyah, muhkamat dan mutasyabih, dzanniyat dan qath’iyyat, kaidah memadukan antara ta’arudh dan tarjih, perbedaan antara hadis daif dan maudhu’, dan lain sebagainya.

b. Memakai metode ”Dhahiriy” dan ”harfiyah”, dan menolak qiyas, maslahaat, ihtihsan dan tidak melihat kepada maqasid syariah dan illat hukum.

c. Memakai Mutasyabih menjadi Muhkamat. Maksud Mutasyabih adalah sesuatu yang mempunyai berbagai tafsiran, tetapi mereka menetapkan tafsiran mereka tanpa melihat tafsiran yang lain.

d. Kekeliruan dalam istilah antara Iman, Islam, Kafir, Syirik, Fasik, Dzalim, Munafiq, Jahiliyah, dan lain sebagainya, disebabkan tidak memahami makna bahasa antara makna Majaz dan Hakikat, antara iman dan iman yang sempurna, antara kafir maksiyat, dan kafir i’tikad, antara syirik besar dan syirik kecil, antara munafik akidah dan munafik amal, antara bid’ah yang sesat dan bid’ah yang hasanah.

e. Berlebih-lebihan dalam mengharamkan sesuatu, tanpa membedakan antara haram dan makruh, antara makruh lit tahrim dan makruh lit tanzih.

f. Mengambil ilmu hanya berdasarkan bacaan atas kitab, akhbar , atau majalah tanpa mengkaji lebih lanjut atau bertanya dan merujuk kepada ulama yang pakar dalam bidang tersebut.

g. Lemah dalam sejarah rasul, sejarah sahabat, dan sejarah Islam, dan sunatullah dalam kehidupan, serta fiqh keadaan dan keutamaan (fiqhul waqi/fiqhul awlawiyat) dan strategi dakwah (fiqh dakwah).

h. Metode berlawanan, sebagian-sebagian dan tidak menyeluruh. Pada waktu umat Islam tertinggal dalam kehidupan dunia, segera mereka meninggalkan kehidupan spiritual sibuk mengejar dunia, sedangkan di pihak yang lain meninggalkan dunia dan hidup zuhud, padahal Islam mengajarkan perpaduan antara kehidupan dunia dan akhirat, antara ilmu dan agama, antara kerja dan amal, antara material dan spiritual, dan lain sebagainya. (Umar Abd.Kamil, al Mutatharifun, 1998, hal.143-154).

Dari tulisan diatas dapat dilihat bahwa tidak setiap gerakan aliran keras dalam arti yang tidak setuju dengan pemerintah dapat dinamakan kelompok khawarij, apalagi jika gerakan tersebut untuk menegakkan kebenaran dan keadilan, sebab Khawarij memiliki metodologi pemikiran tersendiri yang menyimpang dari pemikiran ahlussunnah wal jamaah. Semoga dengan tulisan ini kita dapat menilai apakah sesuatu gerakan tersebut dapat dinamakan khawarij atau bukan, sehingga tidak menimbulkan kekeliruan di tengah umat.

Penulis adalah mahasiswa Pasca Sarjana Sejarah dan Tamadun Islam, Universitas Malaya, Kuala Lumpur


Memahami Keadaan Zaman

بسم الله الرحمن الرحيم

MEMAHAMI KEADAAN ZAMAN

(MA’RIFATUZ ZAMAN)



Muhammad Ihsan Tandjung

Masjid Al-Hakim PT Sucofindo-Pancoran-Jaksel

01 Syawwal 1429 H / September-Oktober 2008


الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
الله أكبر كبيرا و الحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة و أصيلا

لآإله إلا الله و لا نعبد إلا إياه مخلصين له الدين ولو كره الكافرون

لآإله إلا الله وحده صدق وعده و نصر عبده و أعز جنده و هزم الأحزاب وحده
لآإله إلا الله الله أكبر الله أكبر و لله الحمد

الحمد لله الذي ألف بين قلوبنا فأصبحنا بنعمته إخوانا

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى و دين الحق ليظهره على الدين كله

ولو كره المشركون

أشهد أن لآإله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

اللهم صلي على محمد و على آله و أصحابه و أنصاره و جنوده

و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

فقال الله تعالى في كتابه الكريم:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾


الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Marilah kita senantiasa mengungkapkan rasa terima-kasih kepada Allah SWT semata. Allah telah melimpahkan kepada kita sedemikian banyak ni’mat. Jauh lebih banyak ni’mat yang telah kita terima dibandingkan kesadaran dan kesanggupan kita untuk bersyukur. Diantaranya, marilah kita ber-terimakasih kepada-Nya atas ni’mat yang paling istimewa yang telah kita terima selama ini, padahal tidak semua manusia memperolehnya. Dan terkadang kitapun bertanya-tanya mengapa kita termasuk yang memperolehnya? Itulah ni’mat iman dan islam, yang dengannya hidup kita menjadi jelas, terarah dan berma’na.


Sesudah itu, marilah kita ber-terimakasih pula kepada Allahu ta’ala atas limpahan ni’mat sehat-wal’aafiat. Ni’mat yang memudahkan dan melancarkan segenap urusan hidup kita di dunia. Semoga kesehatan kita kian hari kian mendekatkan diri dengan Allahu ta’ala. Dan semoga saudara-saudara kita yang sedang diuji Allah melalui aneka jenis penyakit sanggup bersabar menghadapi penderitaannya…bersama keluarga yang mengurusnya, sehingga kesabaran itu mengubah penyakit mereka menjadi penghapus dosa dan kesalahan. Amien, amien ya rabbal ‘aalamien.

Selanjutnya khotib mengajak jamaah sekalian untuk senantiasa berdoa kepada Allah swt agar Dia melimpahkan setinggi-tingginya penghargaan dan penghormatan, yang biasa kita kenal dengan istilah sholawat dan salam-sejahtera kepada pemimpin kita bersama, teladan kita bersama… imamul muttaqin pemimpin orang-orang bertaqwa dan qaa-idil mujahidin panglima para mujahid yang sebenar-benarnya nabiyullah Muhammad Sallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para shohabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga akhir zaman. Dan kita berdo’a kepada Allah swt, semoga kita yang hadir di tempat yang baik ini dipandang Allah swt layak dihimpun bersama mereka dalam kafilah panjang penuh berkah. Amien, amien ya rabbal ‘aalaamien.


الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Sepanjang perjalanan zaman Allah SWT senantiasa memperlihatkan sifat-sifat utamanya, yakni Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang). Tidak pernah sesaatpun Allah Ta’ala biarkan umat manusia hidup di dunia dalam kegelapan dan ketidak-jelasan. Allah Ta’ala selalu memberikan petunjuk dan bimbingan-Nya kepada hamba-hambaNya. Allah Ta’ala mewujudkan hal ini melalui pengiriman para utusan-Nya di setiap kelompok umat manusia di sepanjang zaman.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat

(untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (semata),

dan jauhilah Thaghut (Syaithan) itu”(QS An-Nahl ayat 36)

Tidak ada seorang Nabi ataupun Rasul yang diutus Allah Ta’ala kepada ummat manusia bersuku-bangsa apapun sepanjang zaman kapanpun di negeri manapun, kecuali beliau pasti menyampaikan seruan abadi yang seragam tsb:



“Sembahlah Allah (semata) dan jauhilah Thaghut (Syaithan) itu.”



Demikianlah seruan yang disampaikan oleh Nabi Adam as kepada ummatnya, Nabi Nuh as kepada umatnya, Nabi Ibrahim as, Nabi Musa as serta Nabi Isa as kepada masing-masing ummat mereka. Bahkan segenap Nabiyullah -yang 25 namanya diperkenalkan Allah Ta’ala kepada kita di dalam Al-Qur’an maupun yang lainnya yang kita tidak tahu nama-nama mereka tetapi dikatakan oleh para ulama jumlah mereka mungkin mencapai 124.000 itu- semuanya juga telah menyampaikan seruan abadi tsb.

Hingga tibalah giliran utusan Allah Ta’ala yang terakhir yakni Nabiyullah Muhammad saw. Beliau merupakan penutup dari rangkaian para Nabi dan Rasul ‘alaihimus-salaam.



مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّه

ِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah ayah dari seorang lelaki diantara kalian, tetapi ia adalah Rasul Allah dan Penutup Nabi-Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Ahzab ayat 40)





Berarti kesimpulannya ialah:

1. Karena Nabi Muhammad saw merupakan Penutup para Nabi, berarti tidak bakal ada lagi Nabi setelahnya yang diutus Allah Ta’ala untuk membawa ajaran baru bagi ummat manusia

2. Barangsiapa yang lahir dan hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad saw (Penutup para Nabi) pantas dijuluki sebagai Ummat Muhammad saw, baik ia muslim maupun kafir

3. Ummat Muhammad saw merupakan Penutup Para Ummat atau Ummat Akhir Zaman yang dipimpin oleh Nabi Akhir Zaman. So, we are living in the end of time. Kita merupakan ummat manusia yang menjalani hidup di ujung parjalanan umur dunia.

4. Kalaupun aqidah iman-islam kita mengajarkan bahwa kelak di akhir zaman akan diturunkan seorang Nabiyullah yang selama ini dipelihara Allah Ta’ala di langit selama ribuan tahun, yakni Nabi Isa Al-Masih putra Maryam as, maka itu bukan berarti ia akan datang membawa ajaran baru. Bahkan kehadirannya kelak adalah sebagai pengikut & pengokoh ajaran Nabi Muhammad saw. Ia akan mengajak ahli-kitab, kaum Yahudi dan Nasrani untuk memeluk ajaran Nabi Muhammad saw, ajaran Islam. Sebab semua Nabi dan Rasul para utusan Allah pada hakikatnya selalu mengajak manusia kepada ajaran Islam Tauhid, yaitu mengesakan Allah Ta’ala semata.


الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Kesadaran bahwa kita merupakan Ummat Akhir Zaman atau The Last of Mankind Living in the End of Time merupakan perkara penting. Sebab hal ini akan membawa kita pada keyakinan bahwa Hari Akhir telah dekat kedatangannya. Bahkan Allah Ta’ala berfirman sbb:

يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّه

ِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيباً

"Manusia bertanya kepadamu tentang hari akhir. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari akhir itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari akhir itu sudah dekat waktunya.”(QS Al-Ahzab 63)

Dan Rasulullah saw sendiri bersabda:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بُعِثْتُ فِي نَفَسِ السَّاعَةِ فَسَبَقْتُهَا

كَمَا سَبَقَتْ هَذِهِ هَذِهِ لِأُصْبُعَيْهِ السَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى

“Aku diutus sebelum kedatangan Hari Akhir sebagaimana jari telunjuk ini mendahului jari tengahku.” (HR Muslim 4141)

Saudaraku, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya? Bila Hari Akhir sudah dekat waktunya -bahkan semenjak diutusnya Nabi Muhammad saw 15 abad yang lalu- pantaslah Allah Ta’ala menyuruh kita mempersiapkan diri menghadapi hari esok yang perintahnya diletakkan di antara dua kali penyebutan perintah bertaqwa kepadaNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ

وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS AlHasyr ayat 18)

“Ya Allah, jadikanlah ibadah shiyam dan qiyam Ramadhan kami benar-benar menghasilkan taqwa yang memadai untuk membekali kami menghadapi tanda demi tanda Akhir Zaman yang terus berdatangan. Kami sadar bahwa semakin mendekati Hari Akhir tentunya ujian dan fitnah yang datang akan kian berat. Yaa muuqallibal-quluub tsabbit quluubanaa ‘ala diinika. Ya Allah Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas ajaranMu.”


الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Rasulullah saw menjelaskan kepada kita sejak 15 abad yang lalu bahwa Ummat Islam yang hidup di Era Akhir Zaman ini akan mengalami perjalanan sejarah yang mengandung lima babak.



تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا اللَّهُ إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّاً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ

“(1) Babak Kenabian akan berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.

(2) Kemudian babak keKhalifahan yang mengikuti pola (manhaj) Kenabian berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.

(3) Kemudian babak Raja-raja yang menggigit berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.

(4) Kemudian babak Raja-raja yang memaksakan kehendak(para diktator) berlangsung di tengah kalian selama masa yang Allah kehendaki kemudian Allah mencabutnya jika Allah menghendaki untuk mencabutnya.

(5) Kemudian babak keKhalifahan yang mengikuti pola (manhaj) Kenabian kemudian Nabi diam.” (HR Ahmad 17680)

Hadits ini menguraikan Ringkasan Perjalanan Sejarah Ummat Islam yang terdiri dari lima babak sbb:

Babak I => Kenabian

Babak II => Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian

Babak III => Raja-raja yang Menggigit

Babak IV => Raja-raja yang Memaksakan kehendak (diktator)

Babak V => Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian


الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Babak pertama atau babak Kenabian النُّبُوَّة adalah masa dimana ummat Islam langsung dipimpin oleh Nabiyullah Muhammad saw secara langsung. Babak ini berlangsung singkat yaitu 23 tahun (13 tahun Sebelum Hijrah hingga 10 Hijriah), tidak sampai seperempat abad lamanya. Tetapi ia merupakan masa yang singkat namun diberkahi Allah Ta’ala. Ketika Nabi saw baru diutus pada usia 40 tahun jazirah Arab sedang tenggelam di dalam nilai-nilai zhulumat al-jaahiliyyah (kegelapan nilai-nilai jahiliah). Sementara tatkala Nabi saw wafat pada usia 63 tahun telah terjadi transformasi sosial secara total sehingga jazirah Arab menjadi bersinar dibawah naungan Nurul Islam (Cahaya Ajaran Allah Ta’ala Al-Islam). SubhaanAllah. Babak pertama sudah berlalu, saudaraku.

Babak kedua atau babak Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ adalah masa dimana setelah wafatnya Nabi Muhammad saw ummat dipimpin oleh para sahabat mulia yang dijuluki Khulafaa Ar-Rasyidin (para khalifah yang jujur, adil dan istiqomah mengikuti Allah dan RasulNya). Masa ini ditandai kepemimpinan sahabat-sahabat utama, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Al-Khattab, Ustman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Tholib radhiyAllahu ‘anhum ajmaa’iin (semoga Allah meridhai keempatnya tanpa kecuali). Babak ini juga berlangsung singkat yaitu 30 tahun (tahun 10 H hingga 40 H), seperempat abad lebih sebagaimana prediksi Nabiyullah Muhammad saw:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

الْخِلَافَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ

“Era Al-Khilafah di dalam ummatku berlangsung tigapuluh tahun, kemudian sesudah itu muncullah era kerajaan demi kerajaan.”

(HR At-Tirmidzi 2152)

Babak kedua sudah berlalu, saudaraku.

Kemudian muncullah babak ketiga atau babak kepemimpinan Raja-raja yang Menggigit مُلْكًاعَاضًّا . Ia adalah masa dimana ummat Islam dipimpin dengan pola kerajaan selama masa yang cukup lama yaitu sejak tahun 40 H hingga tahun 1342 H atau sekitar 13 abad, tepatnya selama 1302 tahun. Babak ini terutama ditandai dengan berdirinya tiga kerajaan Islam besar yaitu Daulat Bani Umayyah lalu Daulat Bani Abbasiyyah kemudian Kesultanan Utsmani Turki yang di dalam berbagai kitab sejarah dunia (barat) lebih dikenal dengan The Ottoman Empire.

Mengapa pada masa ini para pemimpin ummat dijuluki oleh Nabiyullah Muhammad saw sebagai “para raja yang menggigit”, padahal ummat masih menyebut mereka sebagai khalifah, institusi negara Islam masih bernama khilafah dan Al-Qur’an serta Sunnah Nabi saw masih dijunjung tinggi?

Karena ketika itu suksesi pergantian kepemimpinan seorang khalifah kepada khalifah berikutnya menggunakan pola keturunan alias pola kerajaan. Sementara disebut “menggigit” karena para raja tersebut “menggigit” Al-Qur’an dan Sunnah, kualitasnya menurun dibandingkan babak sebelumnya dimana para Khulafaa Ar-Rasyidin “menggenggam” Al-Qur’an dan Sunnah secara kuat dan mantap.

Oleh karenanya, babak ketiga ini jelas babak yang lebih buruk daripada babak kedua. Namun ia masih jauh lebih baik daripada babak keempat, sebab setidaknya ia masih mampu memelihara ummat Islam berada di dalam satu kesatuan Jama’atul Muslimin yang tunggal dengan wilayah geografis Daulah Islamiyyah yang tunggal serta kepemimpinan yang memiliki otoritas tunggal. Pada masa ini tidak ditemukan kasus perbedaan penetapan tanggal jatuhnya hari Raya Idul Fitri, karena masih ada Final Decision Maker yang menyelesaikan berbagai perbedaan hasil ru’yatul hilal yang muncul di tengah ummat. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Babak ketigapun sudah berlalu dan menjadi sejarah, saudaraku.


الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Setelah perjalanan sejarah Ummat Islam melalui babak pertama, kedua dan ketiga, maka Nabiyullah Muhammad saw selanjutnya memberitakan akan datangnya babak keempat yaitu babak kepemimpinan Raja-raja yang memaksakan kehendak(para diktator) مُلْكًاجَبْرِيَّاً.

Inilah babak yang diawali semenjak runtuhnya kekhalifahan kesultanan Ustmani Turki pada tahun 1924 atau 1342 H. Babak ini ditandai dengan runtuhnya kesatuan Ummat Islam dengan kesatuan wilayah dan kepemimpinannya. Ummat Islam menjalani kehidupan laksana anak-anak ayam kehilangan induk. Laksana anak-anak yatim kehilangan ayah. Atau laksana gelandangan kehilangan rumah tempat bernaung.

Dunia Islam terurai menjadi kepingan-kepingan negeri yang memiliki arah dan sistem beraneka jenis yang pada umumnya jauh dari arah dan sistem Islam. Mulailah dunia memiliki para pemimpin dan penguasa yang memaksakan kehendak seraya mengabaikan kehendak Allah dan RasulNya. Nasionalisme dan sekularisme menjadi dominan pada tataran kehidupan sosial-kemasyarakatan, sementara identitas dan ideologi Islam cenderung dilokalisasi pada tataran kehidupan individual semata.

Negara-negara Islam mengumumkan berdirinya nation-state. Masing-masing menentukan ideologi dan falsafahnya sendiri-sendiri yang pada umumnya tidak berlandaskan panduan umat Islam semestinya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Mulailah masing-masing lebih membanggakan identitas material-geografis kebangsaannya daripada identitas spiritual-ideologis keislamannya. Memang, kita tidak semestinya mempertentangkan kebangsaan dengan keislaman. Namun yang pasti, kesadaraan sebagai warga khilafah yang berspirit luas Islam-globalis telah jauh terkubur oleh kesadaraan sebagai warga negara yang berjiwa sempit bangsa-lokalis.

Seorang ulama Pakistan bernama Imran Hosein menyebut dunia kini A Godless Civilization (Peradaban Tak Bertuhan). Ahmad Thompson, seorang penulis Muslim berkebangsaan Inggris, bahkan menyebut dunia kita sejak kurang lebih seratus tahun belakangan merupakan sebuah Sistem Dajjal atau “sistem kafir”.

Ia berpendapat, kondisi dunia kini sangat bertentangan dengan sistem kenabian. Berbagai lini kehidupan modern didominasi dajjalic values (nilai-nilai dajjal), bukan prophetic values (nilai-nilai kenabian). Kemudian secara panjang lebar ia bedah satu per satu lini kehidupan modern yang sudah sangat jauh dari nilai keimanan dan sarat nilai kekufuran.

Muhammad Quthb, adik kandung asy-Syahid Sayyid Quthb, menyebut dunia modern sebagai Jahiliyah Abad 20 atau Jahiliyah Modern.

Pada babak keempat ini ummat Islam menjalani the darkest ages of the Islamic history (masa paling kelam dalam sejarah Islam). Ini sudah merupakan skenario Ilahi dalam rangka menyadarkan kita akan benarnya firman Allah Ta’ala sbb:

إِن يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهُ

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ

“Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (QS Ali Imran ayat 140)

Ada harinya orang-orang beriman mengalami kejayaan dan memiliki peradaban yang kuat, sementara ada harinya ummat Islam merasakan kekalahan, keterpurukan dan ketidak-jelasan peradaban. Ada pula harinya orang-orang kafir berjaya, memiliki peradaban bahkan berlaku semena-mena dan ada harinya mereka keok, kalah serta tidak berdaya menyebarluaskan budaya maksiat dan kekufurannya. Itulah sunnatullah yang mesti berlaku dalam kehidupan di dunia yang fana ini.

Yang penting bagi kita adalah setelah menyadari kita berada pada posisi terpuruk sekarang ini seyogyanya kita bersungguh-sungguh memelihara kesabaran dan konsistensi (istiqomah) dalam menjalankan kehidupan berpandukan ajaran Islam. Kita tidak mungkin banyak berharap dalam situasi dimana para مُلْكًا جَبْرِيَّاً sedang merajalela menguasai dunia dewasa ini. Kondisi ini bahkan telah dinubuwwahkan oleh Rasulullah saw melalui berbagai Tanda-tanda Akhir Zaman (اشراط الساعة) yang begitu banyak bermunculan di era kita sekarang ini.

Bahkan jika kita cermati hadits mengenai perjalanan sejarah Ummat Islam riwayat Imam Ahmad di atas sudah sepatutnya kita mengembangkan optimisme –selain sabar dan istiqomah- karena babak keempat bukanlah babak final perjalanan nasib ummat Islam.

Masih ada satu babak lagi yang perlu dijemput oleh ummat Islam. Itulah babak kelima dimana bakal tegak kembali era kepemimpinan orang-orang sekaliber Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, yaitu Kekhalifahan mengikuti pola (Manhaj) Kenabian خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ . Suatu era yang barangkali tidak terbayangkan bagi siapapun yang telah begitu dahsyat terperangkap dalam kesenangan menipu babak keempat sekarang ini. Era yang sudah pasti dinantikan oleh setiap muslim-mu’min yang merindukan tegakknya keadilan dan kejujuran hakiki.


الله أكبر الله أكبر الله أكبر و لله الحمد
Jamaah sholat Idhul Fitri rahimakumullah

Marilah kita persiapkan diri seoptimal mungkin untuk menghadapi babak final, babak kelima tersebut. Mari kita kenali, fahami dan persiapkan diri menghadapi Tanda-tanda Akhir Zaman yang bakal memenuhi panggung sandiwara dunia di masa peralihan babak keempat menuju babak kelima Ummat Akhir Zaman ini. Pastikan keberfihakan kita kepada Imam Mahdi dan Nabiyullah Isa Al-Masih as. Pastikan penolakan kita masuk ke dalam pasukan para penguasa diktator babak keempat yang akan berujung pada munculnya puncak fitnah yaitu Dajjal, fitnah terbesar di Akhir Zaman kata Nabi saw.

Ibarat sebuah film, dunia saat ini telah berada pada episode menjelang The End. Bayangkan, sudahlah kita dijuluki Ummat Akhir Zaman, lalu dari lima babak perjalanan Ummat Akhir Zaman yang beriman ini, kita berada di babak keempat pula. Berarti, kita wajib mempersiapkan diri menyongsong babak final Akhir Zaman. Masa transisi dari babak keempat menuju babak kelima kata Nabi saw bakal diwarnai banyak ujian dan fitnah yang kian menghebat sehingga sebagian ulama menyebutnya sebagai era Huru-hara Akhir Zaman.

Tidak ada sutradara manapun yang menulis skenario untuk mengecewakan para penonton. Sutradara selalu memastikan bahwa jagoan atau the Good Guys keluar sebagai pemenang atas para penjahat (the Bad Guys). SubhaanAllah, apalagi Allah Ta’ala, sebaik-baik Penulis Skenario. Pastilah Allah berrencana memenangkan tentaraNya atas tentara Dajjal atau hizbusy-syaithan.

Namun, sebagaimana semua film pada umumnya, mustahil jagoan menang sebelum melalui episode yang paling seru dan dahsyat. Artinya, mustahil babak kelima akan datang bila Ummat Islam berharap mencapainya sekedar dengan berjalan melalui taman-taman bunga. Sudah sewajarnya bilamana peralihan babak keempat menuju babak kelima melewati bukit-bukit berbatu dan jurang-jurang curam diwarnai deraian airmata bahkan sangat mungkin bersimbah darah. Sebab mustahil para penguasa diktator babak keempat akan menyerahkan begitu saja kepemimpinan kepada orang-orang beriman dan beramal sholeh kecuali melalui sebuah perlawanan yang keras. Satu hal yang pasti, masa transisi itu mustahil sekedar melalui meja perundingan, apalagi sekedar melalui permainan pertarungan “kotak suara”.
Wallahu ‘alam bish-shawwaab.-



DOA



رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

"Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)". (QS 18:10)

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيم ٌ

"Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang". (QS 59:10)
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS 3:8)
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 25:74)
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 3:147)

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma`aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS 2:286)


رَبَّنَا إِنَّكَ مَنْ تُدْخِلِ النَّارَ فَقَدْ أَخْزَيْتَهُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ ءَامِنُوا

بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhan-mu", maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. Dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (QS 3:192-194)





Muhammad Ihsan Tandjung.-

Cimanggis, Depok

1 Syawwal 1429 / September-Oktober 2008

Selasa, 14 Oktober 2008

KKN STAI Luqman Al-Hakim 2005

Lihatlah Anak - anak ini, mereka adalah generasi penerus perjuangan Islam, penegak Islam di Tengger. Ayo Saudaraku, bangkitlah.

Bom Syahadat di Tengger


Subhanallah, subhanallah,.... Tak henti - hentinya hatiku bertasbih kepada Allah. ketika menyaksikan sendiri kebesaran Dia di suku Tengger. Dan menyaksikan sendiri sekitar 1866 mualaf yang semangat belajar dan mengamalkan Syariat Islam. sehingga lantunan Adzan pun tak asing lagi.
Kawan - kawan mari kita berbagi kepada umat, meskipun keaadaan kita sempit, baik berbagi dengan imu, harta maupun pikiran kita. Umat menunggumu, Ingat itu,

Minggu, 31 Agustus 2008

Mujahid Ndeso


Ingat mas, tampang, jabatan, dan kekayaan gak jadi ukuran di mata Allah SWT. Jadi gak usah minder dan takut dengan omongan dan kelakuan orang - orang terhadap kita. Gitu aja kok repoot. Capek dech.

Selasa, 17 Juni 2008

HAKEKAT KESUKSESAN SEJATI

Oleh : GATOT SUPRIYADI*


Coba tanya pada para mahasiswa, kenapa kuliah?. Jawabanya, karena ingin sukses. Coba tanya pada para selebritis, kenapa jadi artis?. Jawabanya karena ingin sukses. Tanyalah juga kepada para pemburu PNS?. Tentu jawabanya sama, ingin sukses. Rata – rata semua orang, kalau ditanya, ingin sukses. Lantas apa hakekat sukses?.

Apakah, ketika harta berlimpah, istri cantik, punya jabatan penting, dikatakan sukses?. Atau seseorang dikatakan sukses, apabila dia telah lulus kuliah, lalu bekerja, kemudian jadi PNS, kemudian menikah, lalu punya anak, lantas tua menjalani pensiun, dan mati?. Itukah yang dikatakan sukses. Bukan ya Ikhwah, bukan itu. Salah besar kalau antum mengartikan seperti itu.

Ana muslim, antum muslim. Maka, ‘kacamata’ kita tentunya Islam. Dan hakekat sukses pun harus kita definisikan sesuai kacamata Islam. Lantas apa kesuksesan sejati yang sesuai Islam?. Dikatakan sukses apabila kita selalu di jalan Allah dan terus selalu berusaha istiqomah di jalan tersebut. Maka, kita tidak akan pernah membiarkan celah sedikit pun suatu potensi yang mengganggu untuk keluar dari jalan Allah. Bahkan harus disingkirkan sejauh – jauhnya. Misalnya, besok kita ujian, tentunya hari ini kita belajar, dan focus pada mata kuliah yang besok diujikan. Seluruh mata kuliah lain kita singkirkan. Dan hanya berkonsentrasi pada mata kuliah yang besok di ujikan. Begitu juga dengan kesuksesan sejati yang akan kita tempuh. Seluruh potensi yang menggangu kita singkirkan. Seluruhnya. Semakin tidak kita singkirkan, hidup kita pasti semrawut. Dan sedikit saja kita memberikan celah. Maka sama saja kita mengucapkan selamat datang kepada iblis laknatullah.

Wallahi Ikhwah, sungguh keadilan akhirat sangat berat. Salah mempersepsikan sukses, maka salahlah jalan kita, apabila sudah salah jalan, salahlah tujuan kita, apabila sudah salah tujuan, nerakalah tempat kita. Naudzubillah.

Manakala kita di padang masyar nanti, tidak satupun orang yang mempedulikan kita, meskipun itu bapak kita, ibu kita, anak kita sekalipun. Mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Di hari penghitungan itu, kita tidak bisa berbohong, tidak bisa mengelak. Mata, lidah, telinga, kaki, tangan bicara sendiri. Ketika diputuskan di neraka, karena lebih banyak salahnya, maka di seretlah, di buang ke jurang neraka. Tahukah antum?. Jatuhnya sampai ke dasar, memerlukan waktu tujuh puluh tahun, baru sampai dasar. Di nereka siksaan sangat menyiksa. Di setrika sampai tubuh hanjur. Lalu di pulihkan lagi, hanjur lagi, dipulihkan lagi dan terus begitu. Begitulah kalau kita salah jalan.

Iblis laknatullah, tergelincir hanya karena mempersepsikan sesuatu dengan materi. Bisa dibaca di al-Qur’an. Manakala iblis disuruh Allah menyembah Adam. Dia tidak mau, tidak patuh, hanya karena dia merasa lebih mulia dari Adam. Masak disuruh sujud pada Adam yang terbuat dari tanah sedangkan Aku ( kata Iblis) terbuat dari api. Materi ukuranya.

Marilah Ikhwah, kita raih kesuksesan yang sejati itu. Kalau kita tetap istiqomah, maka surga akan selalu menunggumu. Tergiurlah dengan surga itu. Jangan pernah kenikmatan surga di gadaikan hanya karena kenikmatan semu dan sesaat. Paling kita hidup di dunia Cuma 75 tahun. Tapi di akhirat? Kekal ya Ikhwah. Kekal. Mari kita teteskan air mata ini untuk Allah ta’ala.

Sabtu, 07 Juni 2008

MEMBUMIKAN KONSEP PENDIDIKAN RASULULLAH

Oleh: Gatot Supriyadi*

Salah satu strategi 'pembaratan' yang dilakukan oleh orientalis dan misioneris adalah melalui jalur pendidikan. Dimana sistem pendidikan inilah kualitas sumber daya manusia (SDM) ditentukan. Dalam sistem pendidikan, 'pembaratan' dilakukan dengan cara menggantikan corak pendidikan di negeri – negeri muslim dengan corak barat, dan mengusahakan agar pendidikan tersebut berjalan menurut gaya, prinsip dan ketentuan barat yang pragmatis dan sekularis.
Tengoklah di negara Indonesia, pendidikan berkembang sebagai sebuah industri yang bersifat ekonomis, selalu menghitung untung dan rugi. Tidak hanya itu saja yang bermasalah, kurikulum yang ditentukan oleh pemerintah pun bersifat dikotomis yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu kehidupan. Ditambah lingkungan sekolah yang jauh dari nilai – nilai syari'at Islam. Dan juga, visi, misi, dan tujuan pendidikan masih bersifat pragmatis.

Hal ini mengakibatkan :
Pertama, para pelajar dan pemuda Islam menjadi orang – orang yang inverior terhadap agamanya sendiri, mereka Islam, namun, pikiran dan perbuatanya tidak mencerminkan Islam. Bahkan mereka lebih bangga dengan pikiran dan kehidupan hedonisme ala barat. Lebih memprihatinkan lagi, mereka menjadi garda depan penentang Islam. Fenomena ini bisa dilihat dari beberapa contoh kasus di perguruan tinggi Islam, Mahasiswa yang belajar di fakultas syari'ah namun ujung – ujungnya menjadi penentang syari'at. Seperti membolehkan homo seksual, lesbian, nikah beda agama dan masih banyak lagi yang lainya.
Kedua, Komersialisasi lembaga pendidikan ini berdampak pada makin mahalnya biaya pendidikan, sehingga warga miskin tidak menjangkau uang gedung, buku, laboratorium, seragam, dan biaya – biaya lainya yang kadang tidak realistis. Seakan – akan membenarkan statemen yang mengatakan sekolah yang bermutu hanya untuk orang borjuis saja, yaitu untuk kalangan menengah keatas. Lantas dimana rahmatallil'alamin-nya Islam?
Ketiga, kurikulum masih bersifat dualisme atau dikotomis, yaitu memisahkan ilmu agama dan ilmu kehidupan. Akibatnya, akan memberikan dampak kepada pemikiran yang dikotomis. Menurut Dr. Ahmad Tafsir seorang pakar pendidikan, apabila dualisme kurikulum tidak diwaspadai, maka akan datang dua ancaman. Salah satunya yang paling serius yaitu akan menyebabkan masuknya sekularisme kedalam pemikiran Islam. Dimana daerah yang mencangkup keagamaan hanya dibatasi dengan jam mata pelajaran agama saja. Dan daerah keagamaan tidak masuk dalam mata pelajaran umum yang terkait ilmu kehidupan. Sehingga peran agama menjadi kecil dalam pembentukan pola pikir anak didik. akibatnya, pola pikir anti agamalah yang terbentuk.
Keempat, akibat dari visi, misi, dan tujuan pendidikan yang pragmatis mengakibatkan niat para pelajar dan pemuda muslim menjadi tidak murni lagi mencari ridho Allah saja. Namun niatnya lain – lain. Ada yang hanya menginginkan gelar saja, dan secepatnya meraih gelar tersebut supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan segera kembali. Sehingga hanya menuai keuntungan semata. Ada juga, karena hanya menginginkan pekerjaan yang layak dimata mereka, atau hanya ingin menaikkan status sosial saja. Niat – niat seperti itu akan menjadikan mereka syirik kepada Allah SWT, Naudzubillah!
Kelima, manakala lingkungan jauh dari nilai – nilai syari'at maka semua civitas sekolah baik guru atau dosen, anak didik atau mahasiswa, karyawan dan masyarakat kampus akan merasa asing terhadap kultur yang belandaskan syari'at. Mereka tidak akan merasa berdosa dan takut melanggar syari'at baik dilingkungan pendidikan maupun umum. Seperti menjaga hijab, penutupan aurat, berkhalwat, pacaran, merokok dan lain – lain.

Pendidikan alternatif yang Islami
Untuk membendung sistem pendidikan yang pragmatis dan sekularis, maka mau tidak mau harus ada model pendidikan alternatif yang Islami. Gambaranya, model pendidikanya sangat komperehensif. Yaitu sebuah model pendidikan yang kurikulumnya sistematis, mencangkup aspek akal, rohani ( hati ) dan perbuatan, kemudian lingkungan belajar yang agamis, menjunjung tinggi nilai –nilai syari'at, kemantapan visi, misi dan tujuan pendidikan dalam Islam ditambah biayanya dapat terjangkau semua kalangan masyarakat. Hal itu, sebenarnya sudah diterapkan oleh Rasulullah SAW ribuan tahun yang lalu.
Dalam Islam, pendidikan diarahkan bagi terbentuknya individu – individu yang beradab, berkepribadian Islam. Hal ini tercermin dalam sikap, pikiran dan akhlaknya yang berlandaskan Islam dan mampu Menguasai sains.
Institusi–institusi pendidikan sepatutnya melahirkan individu-individu yang baik, memiliki budi pekerti, nilai-nilai luhur dan mulia, yang ikhlas menyadari tanggung-jawabnya terhadap Rabnya, serta memahami dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada dirinya dan masyarakatnya, kemudian berupaya terus-menerus untuk mengembangkan setiap aspek dari dirinya menuju kemajuan sebagai manusia yang utuh.
Maka tidaklah mustahil peradaban Islam akan segera terwujud, manakala model pendidikanya benar dan bermutu. Sehingga mampu melahirkan 'salahudin – salahudin baru' yang siap mengemban peradaban Islam.
Terahir, hendaknya para orang tua yakin dan percaya diri memasukkan anak- anaknya ke sekolah – sekolah Islam yang mempunyai kriteria – kriteria seperti diatas, kalau pun tidak ada maka dipilih kriteria yang mendekatinya. Jangan memilih sekolah yang hanya mampu mengantarkan kebahagiaan duniawi saja seperti model pendidikan barat. Yang jelas – jelas ingin meghanjurkan Islam

Selasa, 27 Mei 2008

Keadilan

Dimana kini kan kucari, keadilan

Kutanya pewaris kolong jembatan

Ternyata hanya membisu, tak mengerti apa – apa

Kudatangi pelancong disco

Kok, malah tertawa – tawa, bodoh

Kujemput kawanan tuna susila,

Katanya

Lupakan saja nyanyianmu, kemari peluk pantatku!

Kuterobos relung – relung pasar

Pedagang – pedagang meneriakkan slogan devaluasi

Kutelusuri sepanjang jalan dan belantara

Pencuri – pencuri mendirikan penjara sendiri

Kutanya para nelayan.

Sambutnya langit masih tertutup awan badai

Kupanggil gurami kutanya serius

Keluhnya, aku keracunan, lautnya polusi

Kutelusuri diantara pelosok – pelosok desa

Jangkerik yang dulu asyik bernyanyi

Kini mulai gelisah

Beberapa cecak merana, tercuri ikat pinggangnya.

Hanya tokek yang masih tetap bernyanyi

Menghitung undian nasib yang lagi naif

Kudatangi seorang syekh,

Aku mengadu nasib bumi

Oh, syekh malah menjawab dengan tangisnya

Seraya meneruskan dzikir seraya mengangkat doanya

Kupeluk mahasiswa, kutanya dalam frustasinya

Dimana keadilan sejati?

Diakhirat, dekat hotel sagor

Bagaimana keadaanmu kini sahabat?

Lihat kacamataku, aku makin buta dengan diriku

Naluriku makan SKS hingga kenyang

Kuintip anopeles yang sembunyi di jalur gaza

Kupanggil kantor di Amerika

Dan baca tentara AIDSnya

Kuman jantung dan wabah kematian

Seraya, mereka teriak bersama,

Biarkan aku datang

Tuk membagi keadilan sejati



Belajar Bahasa Arab

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template