Selasa, 17 Juni 2008

HAKEKAT KESUKSESAN SEJATI

Oleh : GATOT SUPRIYADI*


Coba tanya pada para mahasiswa, kenapa kuliah?. Jawabanya, karena ingin sukses. Coba tanya pada para selebritis, kenapa jadi artis?. Jawabanya karena ingin sukses. Tanyalah juga kepada para pemburu PNS?. Tentu jawabanya sama, ingin sukses. Rata – rata semua orang, kalau ditanya, ingin sukses. Lantas apa hakekat sukses?.

Apakah, ketika harta berlimpah, istri cantik, punya jabatan penting, dikatakan sukses?. Atau seseorang dikatakan sukses, apabila dia telah lulus kuliah, lalu bekerja, kemudian jadi PNS, kemudian menikah, lalu punya anak, lantas tua menjalani pensiun, dan mati?. Itukah yang dikatakan sukses. Bukan ya Ikhwah, bukan itu. Salah besar kalau antum mengartikan seperti itu.

Ana muslim, antum muslim. Maka, ‘kacamata’ kita tentunya Islam. Dan hakekat sukses pun harus kita definisikan sesuai kacamata Islam. Lantas apa kesuksesan sejati yang sesuai Islam?. Dikatakan sukses apabila kita selalu di jalan Allah dan terus selalu berusaha istiqomah di jalan tersebut. Maka, kita tidak akan pernah membiarkan celah sedikit pun suatu potensi yang mengganggu untuk keluar dari jalan Allah. Bahkan harus disingkirkan sejauh – jauhnya. Misalnya, besok kita ujian, tentunya hari ini kita belajar, dan focus pada mata kuliah yang besok diujikan. Seluruh mata kuliah lain kita singkirkan. Dan hanya berkonsentrasi pada mata kuliah yang besok di ujikan. Begitu juga dengan kesuksesan sejati yang akan kita tempuh. Seluruh potensi yang menggangu kita singkirkan. Seluruhnya. Semakin tidak kita singkirkan, hidup kita pasti semrawut. Dan sedikit saja kita memberikan celah. Maka sama saja kita mengucapkan selamat datang kepada iblis laknatullah.

Wallahi Ikhwah, sungguh keadilan akhirat sangat berat. Salah mempersepsikan sukses, maka salahlah jalan kita, apabila sudah salah jalan, salahlah tujuan kita, apabila sudah salah tujuan, nerakalah tempat kita. Naudzubillah.

Manakala kita di padang masyar nanti, tidak satupun orang yang mempedulikan kita, meskipun itu bapak kita, ibu kita, anak kita sekalipun. Mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Di hari penghitungan itu, kita tidak bisa berbohong, tidak bisa mengelak. Mata, lidah, telinga, kaki, tangan bicara sendiri. Ketika diputuskan di neraka, karena lebih banyak salahnya, maka di seretlah, di buang ke jurang neraka. Tahukah antum?. Jatuhnya sampai ke dasar, memerlukan waktu tujuh puluh tahun, baru sampai dasar. Di nereka siksaan sangat menyiksa. Di setrika sampai tubuh hanjur. Lalu di pulihkan lagi, hanjur lagi, dipulihkan lagi dan terus begitu. Begitulah kalau kita salah jalan.

Iblis laknatullah, tergelincir hanya karena mempersepsikan sesuatu dengan materi. Bisa dibaca di al-Qur’an. Manakala iblis disuruh Allah menyembah Adam. Dia tidak mau, tidak patuh, hanya karena dia merasa lebih mulia dari Adam. Masak disuruh sujud pada Adam yang terbuat dari tanah sedangkan Aku ( kata Iblis) terbuat dari api. Materi ukuranya.

Marilah Ikhwah, kita raih kesuksesan yang sejati itu. Kalau kita tetap istiqomah, maka surga akan selalu menunggumu. Tergiurlah dengan surga itu. Jangan pernah kenikmatan surga di gadaikan hanya karena kenikmatan semu dan sesaat. Paling kita hidup di dunia Cuma 75 tahun. Tapi di akhirat? Kekal ya Ikhwah. Kekal. Mari kita teteskan air mata ini untuk Allah ta’ala.

Sabtu, 07 Juni 2008

MEMBUMIKAN KONSEP PENDIDIKAN RASULULLAH

Oleh: Gatot Supriyadi*

Salah satu strategi 'pembaratan' yang dilakukan oleh orientalis dan misioneris adalah melalui jalur pendidikan. Dimana sistem pendidikan inilah kualitas sumber daya manusia (SDM) ditentukan. Dalam sistem pendidikan, 'pembaratan' dilakukan dengan cara menggantikan corak pendidikan di negeri – negeri muslim dengan corak barat, dan mengusahakan agar pendidikan tersebut berjalan menurut gaya, prinsip dan ketentuan barat yang pragmatis dan sekularis.
Tengoklah di negara Indonesia, pendidikan berkembang sebagai sebuah industri yang bersifat ekonomis, selalu menghitung untung dan rugi. Tidak hanya itu saja yang bermasalah, kurikulum yang ditentukan oleh pemerintah pun bersifat dikotomis yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu kehidupan. Ditambah lingkungan sekolah yang jauh dari nilai – nilai syari'at Islam. Dan juga, visi, misi, dan tujuan pendidikan masih bersifat pragmatis.

Hal ini mengakibatkan :
Pertama, para pelajar dan pemuda Islam menjadi orang – orang yang inverior terhadap agamanya sendiri, mereka Islam, namun, pikiran dan perbuatanya tidak mencerminkan Islam. Bahkan mereka lebih bangga dengan pikiran dan kehidupan hedonisme ala barat. Lebih memprihatinkan lagi, mereka menjadi garda depan penentang Islam. Fenomena ini bisa dilihat dari beberapa contoh kasus di perguruan tinggi Islam, Mahasiswa yang belajar di fakultas syari'ah namun ujung – ujungnya menjadi penentang syari'at. Seperti membolehkan homo seksual, lesbian, nikah beda agama dan masih banyak lagi yang lainya.
Kedua, Komersialisasi lembaga pendidikan ini berdampak pada makin mahalnya biaya pendidikan, sehingga warga miskin tidak menjangkau uang gedung, buku, laboratorium, seragam, dan biaya – biaya lainya yang kadang tidak realistis. Seakan – akan membenarkan statemen yang mengatakan sekolah yang bermutu hanya untuk orang borjuis saja, yaitu untuk kalangan menengah keatas. Lantas dimana rahmatallil'alamin-nya Islam?
Ketiga, kurikulum masih bersifat dualisme atau dikotomis, yaitu memisahkan ilmu agama dan ilmu kehidupan. Akibatnya, akan memberikan dampak kepada pemikiran yang dikotomis. Menurut Dr. Ahmad Tafsir seorang pakar pendidikan, apabila dualisme kurikulum tidak diwaspadai, maka akan datang dua ancaman. Salah satunya yang paling serius yaitu akan menyebabkan masuknya sekularisme kedalam pemikiran Islam. Dimana daerah yang mencangkup keagamaan hanya dibatasi dengan jam mata pelajaran agama saja. Dan daerah keagamaan tidak masuk dalam mata pelajaran umum yang terkait ilmu kehidupan. Sehingga peran agama menjadi kecil dalam pembentukan pola pikir anak didik. akibatnya, pola pikir anti agamalah yang terbentuk.
Keempat, akibat dari visi, misi, dan tujuan pendidikan yang pragmatis mengakibatkan niat para pelajar dan pemuda muslim menjadi tidak murni lagi mencari ridho Allah saja. Namun niatnya lain – lain. Ada yang hanya menginginkan gelar saja, dan secepatnya meraih gelar tersebut supaya modal yang selama ini dikeluarkan akan segera kembali. Sehingga hanya menuai keuntungan semata. Ada juga, karena hanya menginginkan pekerjaan yang layak dimata mereka, atau hanya ingin menaikkan status sosial saja. Niat – niat seperti itu akan menjadikan mereka syirik kepada Allah SWT, Naudzubillah!
Kelima, manakala lingkungan jauh dari nilai – nilai syari'at maka semua civitas sekolah baik guru atau dosen, anak didik atau mahasiswa, karyawan dan masyarakat kampus akan merasa asing terhadap kultur yang belandaskan syari'at. Mereka tidak akan merasa berdosa dan takut melanggar syari'at baik dilingkungan pendidikan maupun umum. Seperti menjaga hijab, penutupan aurat, berkhalwat, pacaran, merokok dan lain – lain.

Pendidikan alternatif yang Islami
Untuk membendung sistem pendidikan yang pragmatis dan sekularis, maka mau tidak mau harus ada model pendidikan alternatif yang Islami. Gambaranya, model pendidikanya sangat komperehensif. Yaitu sebuah model pendidikan yang kurikulumnya sistematis, mencangkup aspek akal, rohani ( hati ) dan perbuatan, kemudian lingkungan belajar yang agamis, menjunjung tinggi nilai –nilai syari'at, kemantapan visi, misi dan tujuan pendidikan dalam Islam ditambah biayanya dapat terjangkau semua kalangan masyarakat. Hal itu, sebenarnya sudah diterapkan oleh Rasulullah SAW ribuan tahun yang lalu.
Dalam Islam, pendidikan diarahkan bagi terbentuknya individu – individu yang beradab, berkepribadian Islam. Hal ini tercermin dalam sikap, pikiran dan akhlaknya yang berlandaskan Islam dan mampu Menguasai sains.
Institusi–institusi pendidikan sepatutnya melahirkan individu-individu yang baik, memiliki budi pekerti, nilai-nilai luhur dan mulia, yang ikhlas menyadari tanggung-jawabnya terhadap Rabnya, serta memahami dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada dirinya dan masyarakatnya, kemudian berupaya terus-menerus untuk mengembangkan setiap aspek dari dirinya menuju kemajuan sebagai manusia yang utuh.
Maka tidaklah mustahil peradaban Islam akan segera terwujud, manakala model pendidikanya benar dan bermutu. Sehingga mampu melahirkan 'salahudin – salahudin baru' yang siap mengemban peradaban Islam.
Terahir, hendaknya para orang tua yakin dan percaya diri memasukkan anak- anaknya ke sekolah – sekolah Islam yang mempunyai kriteria – kriteria seperti diatas, kalau pun tidak ada maka dipilih kriteria yang mendekatinya. Jangan memilih sekolah yang hanya mampu mengantarkan kebahagiaan duniawi saja seperti model pendidikan barat. Yang jelas – jelas ingin meghanjurkan Islam

Belajar Bahasa Arab

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template