Suatu ketika di ruang diskusi, Ustad Dzikrullah seorang mantan Direktur majalah Sahid berkata di hadapan mahasiswa STAI Luqman Al-Hakim Surabaya. "Apakah diantara antum sekalian ada yang pernah mengislamkan orang?" Para hadirin pun terdiam, tidak yang menjawab."Apakah ada, diantara antum sekalian yang membuat orang masuk Islam hanya karena melihat antum shalat?" Hadirin pun tetap terdiam, tidak ada yang menjawab?
Pertanyaan – pertanyaan Ustadz Dzikrullah yang tidak bisa dijawab tadi menggambarkan betapa umat Islam saat ini belum mampu menjadi "magnet" bagi orang lain. Sangat berbeda jauh dengan zamanya Nabi Muhammad SAW maupun para sahabat – sahabat. Kenapa?
Satu di antara sekian faktor yang menyebabkan keberhasilan dakwah Rasulullah SAW adalah kepribadian beliau dan para sahabatnya. Banyak orang masuk Islam hanya karena melihat sahabat Nabi mengucapan salam kepada yang lain. Atau sebab – sebab sepele lainya.
Untuk meyakinkan orang, Nabi tidak perlu berpidato panjang lebar. Ceramah – ceramah beliau sangat pendek, khutbah Nabi sangat pendek dari waktu shalat jumat, begitu juga dalam khutbah – khutbah lainya. Dalam kasus ini bisa kita lihat bahwa bukan panjangnya ceramah yang menjadikan orang tertarik pada Islam, bukan juga pada kata – kata manis para mubalighnya.
Modal Nabi untuk meyakinkan orang lebih banyak tertumpu pada pribadinya. Tidak ada orang yang mengeluh bila bersahabat dengan Nabi, belum ada orang yang mengaduh ketika mengadakan kerjasama dengan Nabi. Belum pernah ada orang yang tak betah bersama Nabi, belum pernah ada yang tersinggung kata – kata Nabi, belum pernah ada yang terkena bogem Nabi, belum pernah ada orang melapor karena ulah Nabi. Inilah modal.
Sebaliknya, Nabi adalah pribadi yang sangat mempesona. Ketika beliau dilempari batu orang – orang Thaif hingga luka di wajah dan sekujur tubuhnya, malaikat datang menawarkan untuk menghancurkan mereka. Akan tetapi Nabi malah berdoa "Ya Allah berilah mereka petunjuk karena mereka belum tahu." Sungguh luar biasa.
Demikian juga ketika Fathul Makkah, saat kaum muslimin mendapatkan kemenangan gemilang, maka seluruh penduduk Makkah mendapat ampunan. Dalam hal ini kita kenal sabda beliau:"barang siapa yang berkumpul di masjidil haram, maka mereka mendapat jaminan keselamatan. Barangsiapa yang tinggal di rumah akan mendapatkan jamianan keselamatan. Dan barang siapa yang tinggal di rumah Abu Shufyan, akan mendapat jaminan keselamatan."
Tiada darah yang tertumpah, tiada hati yang panas membara karena dendam atau amarah. Padahal kaum kuffar Makkah dulu telah menganiaya mereka sampai diuar batas kemanusiaan.
Pribadi yang mempesona ini ternyata bukan hanya terlukis pada diri Nabi saja. Seluruh sahabat beliau menampakkan warna yang sama. Pribadi – pribadi para sahabat sungguh sangat mengagumkan. Wajar bila orang – orang di sekitarnya masuk Islam bukan dengan pedang, tetapi lewat akhlaq dalam pergaulan.
Suatu saat sahabat Ali dalam suatu peperangan menang atas musuh – musuhnya. Salah seorang musuh sudah hampir dibabat batang lehernya, tapi tiba – tiba musuh meludahinya. Dengan serta merta, merah padam wajah Ali karena sangat marah. Tapi karena marah inilah musuh dilepas sementara ia sendiri lari menjauh. Heran melihat peristiwa ini musuhnya mengejar, bukan untuk melawan tapi bertanya, kenapa Ali tidak jadi membunuhny? Beliau menjawab::Saya berperang karena Allah, saya takut membunuh anda dalam keadaan marah. Andai saja anda tidak meludahi saya, anda tentu saja sudah szya babat habis."
Mendengar penuturan ini, kontan sang musuh menyatatakan dirinya masuk Islam. Bukan karena dipaksa dengan pedang.
Jadi, marilah kita tunjukkan Islam yang sesungguhnya. Islam adalah agama rahmatallil'alamin dan kaffatan linnas. Dan kaum muslimin pengemban amanah dakwah harus siap mengatakan,"Siapa yang mau melihat Islam, lihatlah Aku, lihatlah keluargaku, Lihatlah lingkunganku." Karena Aku berusaha dengan sungguh - sungguh menjadi Aqur'an yang berjalan seperti Nabi.
Catagoris
- Album Kenangan (12)
- Artikel (11)
- Ibrah (1)
- My Diary (1)
- Perjalanan Dakwah (2)
- renungan (4)
- Santri Bicara (5)
- Syair (4)
- Tausyiah (1)
Hari Ini
Blog Archive
Perjuangan Tanpa Henti
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Belajar Bahasa Arab
Translate
by : BTF
About Me
- Manusia Pembelajar
- Kab.Semarang, Barat, Indonesia
- Demi pena. Dan apa – apa yang ditulisnya. Menulis bukanlah untuk pamer. Bukan pula hanya sekedar untuk mencari kekayaan belaka. Namun menulis adalah panggilan jiwa. Menulis untuk amal makruf nahi munkar itu adalah yang utama. Setiap hati, setiap mata, setiap rasa akan menikmati goresan pena para penulis. Goresan pena yang bermakna, penuh hikmah dan ilmu. Menulis berarti menuangkan semua ide dalam lembaran – lembaran kertas atau dalam bentuk dunia elektronik dan dunia maya. Jangan takut menulis. Jangan takut salah. Jangan takut keliru. Karena setiap kekurangan yang ada, merupakan awal menuju kepiawaian menulis. Awal yang buruk bukan berarti sebuah bencana. Teruslah merangkai kata, jangan berhenti. Maka engkau akan menemui takdirmu, penulis yang handal. Puluhan kata, ribuan kata berubah bentuk menjadi ukiran tulisan yang penuh bayan.
Favorite Web
- http://semuabisnis.com
- http://pengusahamuslim.com/
- http://sekolah-laris.co.cc/
- http://ccline.co.cc
- http:www.kupinang.blogspot.com
- http://www.infopalestina.com/ms
- http://www.insistnet.com
- http://www.muhammadiyah.or.id
- http://www.nu.or.id
- http://radiomitrafm.com
- http://komunitas-nuun.blogspot.com
- http://hidayatullah.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Tafadhol